konsep Gender Dalam Islam

MAKALAH

KONSEP GENDER DALAM ISLAM

Dwiningsih Afriati

2009/2010


KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Alloh SWT yang telah melimpahkan segala rahmatnya untuk manusia dan alam semesta. Rasa syukur senantiasa tercurah pada-Nya karena dengan kenikmatanNyalah kami dapat menyusun makalah ini hingga selesai.

Sekiranya makalah ini ditujukan kepada Bpk. Marzuki sebagai tugas yang telah menjadi tanggung jawab kami sebagai mahasiswa. Selain itu makalah dengan tema GENDER ini semoga juga bermanfaat bagi pembaca agar lebih dipahami apa sebebarnya konsep jender dalam Islam.

Bagaimana Islam menerangkan tentang perbedaan antara kaum pria dan kaum wanita dalam perspektif Al – Qur’an, semoga menjadikan kita tidak lagi keliru jika kita memperjangkan apa yang dikatakan memperjuankan jender atas nama Islam adalah salah. Karena Islam tidak mengjarkan perbedaan.

Semoga makalah ini bermanfaat sebagai bahan pembelajaran dan tak lupa kami ucapkan terimakasih. Dan kami mengharapkan kritik dan sarannya.

Penulis

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Ketika pemikiran agama terlanjur memberikan legitimasi terhadap system kekerabatan patriarki dan pola pembagian kerja secara seksual dengan sendirinya wacana jender akan bersentuhan dengan masalah keagamaan. Selama ini agama dijadikan sebagai dalil untuk menolak konsep kesetaraan laki – laki dan perempuan. Bahkan, agama dianggap sebagai salah satu factor yang menyebabkan langgengnya status quo perempuan sebagai the second sex.

The hormone puzzle ( tokoh – tokoh hormonal ) adalah satu istilah yang sering disebutkan oleh para pakar jender di dalam menjelaskan hubungan antara anatomi biologi dan perilaku manusia. Perbedaan  anatomi biologi antara keduanya cukup jelas. Akan terapi, efek yang timbul sebagai akibat dari perbedaan itu dimunculkan perdebatan karena ternyata perbedaan jenis kelamin secara biologis ( seks ) melahirkan seperangkat konsep budaya. Interprestasi budaya terhadap perbedaan jenis kelamin iilah yang disebut “ jender “

Perbedaan secra biologis antara laki – laki dan perempuan dapat ditelusuri semenjak masa konsepsi, yaitu ketika seorang ayah menaburkan benihnya ke rahim ibu. Benih itu lalu bersatu dengan indung telur dan membentuk jenis kelamin, apakah embrio itu laki – laki ataukah perempuan. Hormon seksual di dalm embrio tersebut mengalami perkembangan menurut jenis kelaminnya.

Banyaknya persepsi salah terhadap Al – Qur’an tentang ajaran Islam telah menjadi momok tersendiri terutama mengenai masalah jender. Banyak hal yang perl dipahami atau dikaji ulang bahwa diskriminasi terhadap perempuan dengan mengatasnamakan Al – Qur’an adalah suatu hal yang sangat keliru.

  1. Rumusan Masalah
    1. Apa pengertian dari gender?
    2. Apa perbedaan antar sex dan gender?
    3. Apa teori – teori yang menyatakan tentang perbedaan gender?
    4. Apa saja yang ditimbulkan dari masalah perbedaan gender?
    5. Apa sebab – sebab munculnya ketidakadilan gender?
    6. Bagaimana perspektif gender dalam Islam?
  1. Tujuan
    1. Menjelaskan apa itu gender
    2. Menjelaskan perbedaan antara sex dan gender
    3. Menjelaskan teori – teori apa saja yang menyatakan tentang perbedaan gender
    4. Menjelaskan masalah – masalah yang dapat ditimbulakan dari perbedaan gender
    5. Menjelaskan sebab – sebab munculnya ketidakadilan gender
    6. Menjelaskan bagaimana Islam memandang gender
  1. Manfaat
    1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan gender
    2. Dapat membedakan antara sex dan gender
    3. Mengetahui teori – teori apa saya yang terkait tentang perbedaan gender
    4. Mengetahui masalah – masalah apa yang kerap muncul dari perbedaan gender
    5. Mengetahui sebab – sebab apa yang dapat menimbulkan masalah – masalah pada poin ‘d’
    6. Mengetahui bagaimana sebenarnya Islam menyikapi masalah perbedaan gender ini.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian

Kata “gender” berasal darei bahasa Inggris, gender artinya “jenis kelamin”. ( John M.Echols dan Hassan Shadily ). Dalam The Contemporary English Indonesian Dictionary, gender berarti penggolongan menurut jenis kelamin ( Peter Salim, 1989:771). Dilihat di dalam kamus tidak ada perbedaan yang jelas antara pengertian gender dengan sex. Dalam Webster’s New World Dictionary, gender diartikan sebagai perbedaan yang tampak antara laki – laki dan perempuan dilihat daeri segi nilai dan tingkah laku ( Victoria Neufeld, 1984 : 561 ). Concise Oxford Dictionary of  Current English edisi 1990, gender diartiakn sebagai penggolongan gramaikal terhadap kata – kata benda dan kata – kata lain yang berkaitan dengannya yang secra garis besar bergubungan dengan jenis kelamin serta ketidaan jenis kelamin atau kenetralan.

Meskipun kata gender belum masuk dalam perbendaharaan Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah tersebut sudah lazim digunakan, khususnya di Kantor Menteri Negara Urusan Peranan Wanita dengan ejaan “ jender”. Gender diartiakan sebagai “ Interpretasi mental dan cultural tergadap perbedaan kelamin yakni laki – laki dan perempuan. Jender biasanya digunakan untuk menunjukan pembagian kerja yang dianggap tepat untuk menunjukan pembagian kerja yang dianggap tepat bagi laki – laki dan perempuan (Nasarudin Umar. 1999:34-35). Gender bukan merupakan kodrat / takdir Tuhan tetapi berkaitan dengan keyakinan bagaimana seharusnya laki – laki dan perempuan berperan dan bertindak sesuai dengan tata nilai yang terstruktur, ketentuan social dan budaya ditempat mereka berada

  1. Perbedaan Sex dan Gender

Sex refers to biological difference between male and female bodies.

Sex adalah jenis kelamin biologis yaitu perbedaan antara laki – laki dan perempuan secara anatomi biologis yang melekat sejak lahir, tidak terdapat dipertukarkan berlaku sejak dulu, sekarang dan selamanya, serta merupakan kodrat Tuhan. Sex berlaku seraca universal tidak terbatas oleh waktu, wilayah dan budaya tertentu. Misalnya : perempuan mempunyai payudara dan vagina, lelaki mempunyai jakun, penis, dan testis.

Gender : the social and cultural division of people into mesculin or feminine individuals.(Iva Misbah dalam acara Mapaba PMII Hasyim Asy’arie dan Gajah Mada, 21 November 2009)

Gender merupakan konsep cultural yang berupaya membuat pembedaan sifat, peran, perilaku, mentalitas, karakteristik, dan posisi antara perempuan dan laki – laki. Gender dibentuk melalui konstruksi masyarakat/ konstruksi social yang dipengaruhi oelh sisterm kepercayaan / ahama social budaya,politik dan system ekonomi. Gender juga dapat berubah dalam kurun waktu, wilayah dan budaya tertentu. Misalnya : perempuan dianggap lemah lembut, sensitif/ emosional, berperan di ranah domestik, laki – laki dianggap kuat, kasar, rasional dan berperan diranah publik

Gender secara umum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki – laki dan permpuan dari segi social – budaya. Sementara itu , sex secara umum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki – laki dan perempuan dari segi anatomi biologi (Nasarudin Umar, 1999:35). Untuk proses pertumbuhan anak menjadi seorang laki – laki atau menjadi seorang perempuan, lebih banyak digunakan istialh gender daripada istialah sex. Istialah sex umumnya digunakan untuk merujuk kepada persoalan reproduksi dan aktivitas seksual, selebihnya digunakan istilah jender.

Secara biologis alat kelamin adalah konstruksi biologis karena menjadi bagian dari anatomi tubuh seseorang yang tidak langsung berkaitan dengan keadaan social budaya masyarakat ( genderless ). Akan tetapi, secara budaya, alat kelamin menjadi factor paling penting dalam melegitimasi atribut gender seseorang. Begitu atribut seseorang akan diapersepsikan sebagai laki – laki atau perempuan. Atribut ini juga senantiasa digunakan untuk menentukan hubungan relasi jender, seperti pembagian fungsi, peran dan status di dalam masyarakat.

  1. Teori Tentang Perbedaan Jender

Tentang seberapa besar peranan seks menentukan perbedaan gender tidak cukup lagi diterangkan dalam kerangka teori nature tetapi sudah menuntut adanya teori – teori yang sudah canggih sesuai dengan perkembangan masalah tersebut di masyarakat. Teori – teori tersebut diantaranya :

  1. Teori Psikonalis

Teori ini beranggapan bahwa peran dan relasi gender ditentukan oleh dan mengikuti perkembangan psikoseksual terutama dalam masa phalic stage yaitu suatu masa ketika seorang anak menghubungkan identitas ayah dan ibunya dengan alat kelamin yang dimiliki masing – masing. Rasa rendah diri seorang anak perempuan mulai muncul ketika dirinya menemukan “sesuatu” yang kurang, yang oleh Freud diistilahkan dengan “kecemburuan alat kelamin” (penis envy). Jadi jelas bahwa unsure biologis merupakan faktor dominan (determinant factor) di dalam menentukan pola perilaku seseorang.

  1. Teori Fungsional structural

Teori ini mendasarkan pandangannya pada ketuhanan masyarakat yang beranggapan bahwa keterkaitan fungsi dan peran antara laki – laki dan perempuan merupakan unsure yang berpengaruh di dalam keutuhan masyarakat. Jadi, fungsi dan peran masih didasarkan pada jenis kelamin. Oleh karena itu, system patriarki yang memberikan peran menonjol pada laki – laki dianggap suatu hal yang wajar.

  1. Teori Konflik

Teori ini mendasarkan bahwa pertentangan antara kelas di dalam masyarakat beranggapan bahwa relasi gender sepenuhnya ditentukan oleh lingkungan budaya

  1. Teori Feminis

Teori ini mengatakan bahwa sepenuhnya kodrat perempuan tidak ditentukan oleh faktor biologis tetapi oleh faktor budaya dalam masyarakat. Teori – teori ini agaknya masih memerlukan perjuangna panjang karena di antara gagasan – gagasannya ada yang dinilai kurang realistis karena dunia politik merupakan bagian dari dunia public (public world) yang secara umum masih di dominasi oleh laki – laki.

  1. Teori Sosio Biologis

Teori ini berusaha mengkolaborasi antara teori nature dan nurture, yang beranggapan bahwa faktor biologi dan faktor social budaya menyebabkan laki – laki lebih unggul daripada perempuan. (Nasarudin Umar, 1999 : 6-10)

  1. Permasalahan Gender

Perbedaan gender sebenarnya tidak menjadi persoalan sepanjang tidak memunculkan ketidaksetaraan gende. Sampai saat ini yang masih dibicarakan adalah perbedaan gender telah melahirkan ketidakadilan seperti :

  1. Marginalisasi, yaitu peminggiran  kaum perempuan dari peranan tertentu. Contoh : perempuan adalah sebagai kaum yang hanya dipekerjakan sebagai ibu rumah tangga.
  2. Subordinasi, yaitu pementingan peran laki – laki dari pada perempuan. Dalam hal ini perempuan seolah – olah tidak memiliki kuasa, tidak memiliki otonom dan didominasi oleh laki – laki. Contoh : dalam rumah tangga perempuan dibawah kendali suaminya, dalam negara perempuan diposisikan satu tingkat dibawah laki – laki.
  3. Pembentukan steorotipe  melalui pembelaan negative

Contoh : steorotipe berawal dari asumsi bahwa perempuan bersolek bahwa untuk memancing perhatian laki – laki.

  1. Kekerasan terhadap perempuan (violence)

Contoh : terkadang ketidak adilan gender pada perempuan menimbulkan kekerasan fisik seperti pemerkosaan dan pemukulan

  1. Beban Kerja Kaum Perempuan (Beban ganda / Double Barden)

Contoh : anggapan bahwa kaum perempuan adalah pribadi yang rajin dan telaten berakibat bahwa semua pekerjaan rumah tangga merupakan tanggung jawab perempuan.

  1. Munculnya Ketidakadilan Gender

Ketidak adilan gender bukanlah hal yang timbul karena tidak ada sebab musababnya, semua hal pasti ada sebab – sebabnya, seperti halnya ketidak adilan gender ini desebabkan oleh :

  1. Budaya patriarki yang sudah mengakar

Budaya patriarki merupakan sistem sosial yang mendukung dan membenarkan hak – hak istimewa pada laki – laki yang akhirnya mengakibatkan kontrol terhadap perempuan sekaligus menciptakan jurang sosial antara kaum laki – laki dan perempuan.

Patriarki berpijak dari konsep superioritas laki – laki dewasa atas perempuan dan anak – anak perempuan yang sudah mengakar dalam keyakinan bahkan menjadi suatu ideology yang sulit diubah.

  1. Penafsiran yang keliru tentang teks Al – Qur’an

Kadang dalam membaca arti bacaan al Qur ‘ an salah, karena dalam pemahamannya kurang konperhensif dan mendalam.

  1. Bias gender dalam pemaknaan hadist.

Bias gender juga sering muncul dalam pemahaman hadist – hadist Nabi Muhammad saw juga sering dijumpai hadist yang “misoginis” oleh karena itu untuk mengetahui kualitas hadist perlu diadakan penelitian sanat (periwayatan hadist), matan cisi dan makna hadist. Konstektual pemahaman hadist yaitu usaha yang dilakukan untuk menyesuaiakn perkembangan kehidupan dengan teks hadist.

  1. Sistem Hukum dan Pemerintahan

Dimana permpuan selalu dijadikan the second sex yang mengakibatkan perempuan tidak bisa mengambil peranan – peranan penting dalam pemerintahan.

  1. Media Massa

Madia massa memiliki peranan yang sangat penting dalam masalah gender selama ini. Misalnya saja dalam hal membangun opini publik contohnya dalam program – program televisi kerap kali kaum perempuan dipernkan sebagai tokoh yang lemah dan suka menangis. Selain itu aktris perempuan juga ditampilkan pada adegan – adegan yang tidak senonoh, sebagai objek video porno dll.

  1. Perspektif Gender dalam Islam

Perempuan sering dianggap sebagai objek yang lemah, objek yang pastinya akan kalah ataupun mengalah. Hal inilah yang sering membuat penghargaan terhadap pereempuan itu dipandang sebelah mata. Pada masa sebelum datangnya Islam banyak sekali budaya yang kaurang pantas untuk dilakuakan, misalnya pembunuhan bayi perempuan, menurut mereka bukan mereka tidak menghargai perempuan tapi kaena mereka memiliki alas an pokok yaitu khawatir akan miskin, bentuk pengabdian kepada Tuahn, untuk kepentingan status sossial kemudian langgengnya budaya patriarkhi dan tradisi poligami. Hingga akhirnya diturunkan ayat QS Al – Isra’ 31:

Artinya : “ Dan janganlah kamu membunuh anak – anakmu karena takut kemiskinan, Kamilah yang akna member rizki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.”

Misi pokok Al – Qur’an diturunkan adalah untuk membebaskan manusia dari berbagai bentuk diskriminasi dan penindasan, termasuk diskriminasi seksual, warna kulit, etnis dan ikatan – ikatan primodial lainnya.

Dalam Al-Qur’an tidak ditemukan kata yang persis sepadan dengan istilah gender. Namun jika kita mengartikan gender sebagai perbedaan laki – laki dan perempuna dalam kehidupan social, maka istialnh dalam Al-Qur’an yang menjelaskan hal itu antara lain al-zauj (suami) dan al-zaujah (istri), al-ab (ayah) dan al-‘umm (ibu) dan ada pula damir muzakar (laki-laki) dan damir mu’annas (perempuan). (Nasarudin Umar,2002:15).

Konsepsi relasi jender merupakan satu diantara sekian banyak kasus yang dapat dijadikan sebagai contoh. Konsepsi relasi gender tidak sama disetiap daerah karena relasi gender berkaitan dengan berbagai faktor, seperti ekologi dan budaya. Di Indonesia misalnya relasi gender tidak sama dengan Timur Tengah meskipun keduanya sama – sama Negara dengan mayoritas muslim.

Ada pernyataan bahwa mengeluarkan perempuan dari rumah yang menjadi kerajaan dan titik tolaknya yang vital dalam kehidupan inmerupakan usaha untuk mengeluarkannya dari apa yang dituntut oleh fitrah dan jati diri yang diciptakan Alloh untuknya. Maka mengajak perempuan untuk masuk kedalam lapangan – lapangan yang dikhususkan bagi kaum laki – laki merupakan hal yang berbahaya bagi masyarakat Isalam dan pengaruh terbesarnya adalah percampuran (ikhtilat) (antara kaum laki – laki dan perempuan) yang dianggap sebagai jalan utama terjerumusnya mereka kedalam perbuatan zina yang menghancurkan masyarakat berserta nilai – nilai dan norma – normanya. (Nasr Hamid Abu Zayd, 2003:76). Hal itu dipandang sebagai suatu bentuk ketidakadilan karena perempuan seperti dikekang oleh kekuasaan kaum laki – laki.

Sungguh Islam tidak mengajarkan adanya perbedaan antara kaum pria dan perempuan. Seperti diterangkan dalam QS At-Taubah ayat 71 yang artinya:

“ Dan orang – orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) penolong bagi sebagian lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan sholat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Bijaksana.”

“… Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf. Akan tetapi para suaminya mempunyai kedudukan satu tingkatan kelebihan dari pada istrinya. Dan Allah Maha Pengasih lagi Maha Bijaksana. (Al-Baqarah : 228). Ayat ini menetapkan bahwa wanita mempunyai kewajiban. Ini berarti bahwa setiap hak wanita diimbangi dengan laki – laki (Abdul Halim Abu Syuqqah,1998:136)

Jelas sekali bahwa Islam adalah agama yang manjaga kesetaraan dan keadilan. Islam juga sangat menghargai dan menjunjung tinggi harkat dan martabat kaum perempuan. Ketidakadilan gender pada dasarnya dipicu dari  budaya patriarkhi yang sudah sangat mapan dan berkelanjutan, yang pada akhirnya merambah kesemua lini kehidupan termasuk salah satunya ‘agama’.

Sebenarnya dalam perjuangan gender ini ada hal yang memang ingin dicapai yaitu “equality” atau kesetaraan. Kesetaraan bukan berarti meniadakan perbedaan antara laki – laki dan perempuan sebagai seorang manusia dan bukan pula berarti permpuan mencoba untuk menjadi laki – laki dan sebaliknya. Kesetaraan berarti mencapai posisi dan peran yang sama dalam hal hak “access” yaitu opportunity, preces and result.

Kesetaraan juga berarti mampu melihat relasi antara laki – laki dan perempuan sebagai relasi antar manusia. Konsepsi kesetaraan ini juga haru sejalan dengan iru HAM (Iva Misbah dalam acara Mapaba PMII Hasyim Asy’arie dan Gajah Mada, 21 November 2009).

BAB III

KESIMPUALAN

Islam tidak pernah mengajarkan adanya perbedaan antar laki – laki dan perempuan karena sesungguhnya yang membedakan mereka hanyalah tingkat ketakwaannya pada Sang Khalik. Dan tercantum dalam surat An-Nisa ayat 34 bahwa “Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki – laki) atas sebagian lain (perempuan). Dan tercantum juga dalam suran Al-Baqarah ayat 228 “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya dan  Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. Jadi dengan kata lain bahwa sebagian laki – laki bisa menang atas sebagian perempuan tapi tidak menutup kemungkinan bahwa sebagian perempuan pun dapat menang atas sebagian laki – laki. Jadi prinsipnya kita semua baik laki – laki ataupun perempuan adalah “sama”.

BAB IV

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Halim Abu Syuqqah.1998.Kebebasan Wanita.Jakarta : Gema Insanni

Iva Misbah. Gender : An Introduction. Dalam acara Mapaba PMII Hasyim Asy’arie dan Gajah Mada. Pandanaran, 21 November 2009

Nasarudin Umar.1999.Argumen Kesetaraan Jender Perspektif Al-Qur’an.Jakarta : Paramadina

Nasarudin Umar.2002.Pemahaman Islam dan Tantangan Keadilan Jender.Yogyakarta : Gama Media

Nasr Hamid Abu Zayd.2003.Deskontruksi Gender. Yogyakarta : SAHMA

Soebahar, Abd Halim.2005.Poligami Pintu Daruratkah? Debat di Kalangan Tokoh Agama.Yogyakrta: Gajah Mada University Press

Tim Dosen PAI UNY.2008. Din Al-Islam. Yogyakarta : UNY Press

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s