GENERALISASI – GENERALISASI SEJARAH

Disusun Oleh :

  1. Mutiara Khoirumattin                      09401244004
  2. Wistian Okky Saputra                     09401244005
  3. Dwiningsih Afriati                            09401244006
  4. Aziz Setiawan                                  09401244050
  5. Hema Irit Wulansih                         09401244051
  6. Sad Dita Dwi Sancaya                    09401244052

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN EKONOMI

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

TAHUN 2009

GENERALISASI SEJARAH

Tujuan ilmu, termasuk  sejarah, adalah pembentukan pengetahuan teoritis yang biasa dipakai untuk eksplansi, prediksi, dan kontrol. Untuk mencapai tujuan itu perlu penataan fenomena melalui klasifikasi dan kategorisasi, lalu dilakukan transformasi data empiris hasil penelitian di dalam generalisasi; dan inilah inti kegiatan keilmuan: pembuatan generalisasi untuk dikumpulkan menjadi teori. Generalisasi ( bahasa Latin generalis berate umum) adalah pekerjaan penyimpulan dari yang khusus kepada yang umum. Generalisasi yang tersedia dapat menjadi dasar penelitian sebelumnya dan  merupakan accepted history.

Genaraliasi itu dapat dipakai sebagai hipotesis deskriptif, yaitu sebagai dugaan sementara. Biasanya itu hanya berupa generalisasi konseptual. Meskipun demikan, pemakain generalisasi yang bagaimanapun sederhananya harus diarahkan supaya sejarah tetap empiris. Berikut contoh keterkaitan generalisasi ilmu social “REVOLUSI” dengan generasi sejarah “revolusi termuda”. Generalisasi sejarah yang sebenarnya adalah hasil penelitian. Kata “revolusi” yang merupakan penyimpulan dari data yang  ada memang dapat menjadi dasar penelitian, sementara ‘revolusi pemuda’ adalah kesimpulan yang didapatkan sebagai hasil penelitian sejarah. Akan tetapi, sejarah adalah ilmu yang menekankan keunikan, sehingga penelitian sejarah perlu menjelaskan suatu peristiwa secara mendetail, terutama yang berkaitan dengan “proses” dari suatu peristiwa.

Generalisasi atau simpulan ( kesimpulan umum) memang sangat perlu dalam sejarah, sebab sejarah adalah ilmu. Orang yang tak melakukan generalisasi tidak akan  bisa membedakan “pohon dengan hutan”. Juga ia tidak akan bisa membedakan hutan dengan taman. Sebab, keduanya mempunyai unsur yang sama, yaitu pohon, danau, dan gundukan tanah. Demikian pula ia tidak akan mengerti lalu lintas. Yang dilihatnya hanyalah lampu hijau-kuning-merah, polisi, mobil, dan jalan raya. Generalisasi sejarah dapat berarti spesifikasi atau bahkan anti-generalisasi bagi  ilmu yang lain.

A. HAKEKAT GENERALISASI

Generalisasi merupakan pernyataan yang menyatakan gabungan antara konsep-konsep dan berfungsi sebagai pembantu untuk berpikir dan mengerti. Generalisasi-generalisasi itu tidak hanya mendeskripsikan data tetapi juga memberikan struktur pada data ini. Seperti halnya dengan fakta-fakta, generlisasi-generalisasi dapat didukung atau ditolak dengan kembali merujuk kepada berbagai macam evidensi (bukti) yang dapat diamati. Juga sepeti halnya dengan konsep-konsep, generalisasi-generalisasi ini penting dalam pengembangan berbagai ilmu, terutama ilmu-ilmu social dan sejarah, karena fungsinya dapat membantu manusia sendiri memahami dunia dan segala fenomena di sekelilingnya dimana mereka hidup. Hanya generalisasi-generalisasi berbeda dengan fakta-fakta dalam hal; jika fakta-fakta menunjuk kepada peristiwa-peristiwa, individu-individu, atau sitauasi-situasi tunggal  atau unik, maka hubungan-hubungan yang disarankan oleh generalisasi-generalisasi itu menunjuk kepada lebih dari satu kemungkinan (Fraenkel: 72-73). Ilmu-ilmu Sosial sangat kaya dengan generalisasi. Begitu pula denagan sejarah, terutama setelah sejarah menggunakan berbagai konsep ilmu-ilmu social yang relevan dengan pokok kajiannya. Hanya bedanya, pertama generalsisasi dalam sejarah biasanaya secara eksplisit atau implicit menyebut keterangan waktu (lampau). Kedua, generalisasi dalam ilmu-ilmu sosial menunjukkan hubungan konsep-konsep yang benar-benar “umum’, sedangkan sejarah, meskipun kelihatannya umum, namun secara eksplisit maupun implicit mengandung ‘kekhususan’. Artinya masih menunjukkan pada peristiwa-peristiwa khusus, tempat-tempat tertentu, serta waktu-waktu lampau tertentu.

Beberapa contoh generalisasi dalam sejarah misalnya:

–          Keruntuhan dan kehancuran Romawi adalah akibat dari alasan-alasan yang serupa yang telah menghancurkan peradaban-peradaban sebelumnya, terutama lebih karena kelemahan-kelemahan dari dalam diri Romawi sendiri daripada karena kekuatan-kekuatan dari luar.

–          Revolusi Industri menciptakan suatu kebutuhan akan sumber-sumber bahan mentah, pasar-pasar baru, dan tempat-tempat penanaman modal yang membawa kepada persaingan yang sengit di antara bangsa-bangsa untuk mendapatkan koloni-koloni.

–          Bangsa-bangsa yang baru merdeka di Asia dan Afrika setelah Perang Dunia II menghadapi berbagai macam masalah politik, sosial, dan ekonomi.

B. TUJUAN GENERALISASI

Menurut Kuntowijoyo, generalisasi bertujuan dua hal yaitu :

  1. SAINTIFIKASI

Semua ilmu menarik kesimpulan umum. Keajegan menjadi tumpuan dalam generalisai. Kalau kita akan memberi warna pada tembok kita  perlu tahu kita butuh berapa kaleng  cat. Dari perhitungan luas tembok dan berapa meter dapat dicat oleh setiap kaleng, kita dapat meramalkan dengan penuh kepastian, kita memerlukan berapa kaleng. Ramalan itu dalam ilmu sosial termasuk sejarah, tidak dengan penuh kepastian, hanya berupa kemungkinan. Dalam sejarah, generalisasi sama dengan teori bagi ilmu lain. Dalam antropologi kita kenal teori evolusi. Dalam sejarah kita kenal generalisasi tentang perkembangan sebuah masyarakat. Kalau orang menggunakan istilah teori untuk sejarah, maka yang dimaksud adalah generalisasi.

Generalisasi sejarah sering dipakai untuk mencek teori yang lebih luas. Toeri di tingkat makro seringkali berbeda dengan generalisasi sejarah di tingkat mikro. Misalnya, bagi Marxisme semua revolusi adalah perjuangan kelas. Mula-mula tesis ini dipakai untuk menganalisis Revolusi Perancis, kemudian dipakai untuk semua revolusi, termasuk yang terjadi di Amerika Latin. Khusus mengenai Revolusi prancis mereka berpendapat bahwa revolusi itu adalah perjuangan kelas borjuis dan petani melawan kaum feudal. Dari penelitian sejarah ternyata generalisasi itu tidak benar. Ada petani di suatu daerah yang berbuat sebaliknya. Banayk petani yang takut pada kaum borjuis dan lebih senang bersama kaum bangsawan. Pernyataan kita adalah kalau sebuah generalisasi tidak berhasil menghadapi ujian sejarah, dan banyak perkecualiannya, apakah itu masih sah sebagai generalisasi?

Demikian juga halnya dengan revolusi Indonesia. Revolusi Indonesia bukanlah perjuangan kelas, tetapi digerakkan oleh cita-cita nasionalisme. Kesalahan generalisasi serupa juga dibuat oleh PKI menjelang kudeta 1965. Mereka tidak melihat bahwa petani sepanjang abad lebih mudah digerakkan oleh faktor budaya daripada faktor ekonomi. PKI rupanya lebih percaya pada ideology daripada generalisasi sejarah.

  1. SIMPLIFIKASI

Orang akan terheran-heran mengenang gerakan rakyat yang beramai-ramai menurunkan para pejabat dalam Peristiwa Tiga Daerah di Pekalongan, Tegal, dan Brebes pada pasca-revolusi. Seorang sejarawan asal Australia, Anton Lucas, telah menyederhanakan peristiwa itu dengan menyebutnya ‘bambu runcing menembus payang’. Demikian juga dengan Peristiwa Cimbok dapat disederhanakan dalam “pertentangan antara ulebalang dengan ulama”. Revolusi Sosial di Sumatera Timur yang banyak memakan korban tak bersalah, seperti Amir Hamzah, sering disederhanakan dengan “rakyat melawan bangsawan”.

Simplifikasi diperlukan supaya sejarawan dapat melakukan analisis. Demikianlah Madura dapat disederhanakan  sebagai daerah dengan ekologi tegal yang selalu mengalami kelangkaan sumber. Penyederhanaan yang ditentukan lewat pembacaan itu akan menuntun sejarawan dalam mencari data, melakukan kritik sumber, interprestasi, dan penulisan.

Ada memang metode penelitian sosial yang menganjurkan supaya orang datang kelapangan dengan kepala kosong. Anjuran itu paling tepat bagi sejarawan. Akan tetapi cepat atau lambat orang harus melakukan penyederhanaan supaya ia dapat menuliskan sesuatu.

C. MACAM-MACAM GENERALISASI

GENERALISASI KONSEPTUAL

Disebut dengan Generalisasi konseptual karena berupa konsep yang menggambarkan fakta. Ketika orang mengatakan “revolusi” dan bukan yang lainnya, seperti “pemogokan”, “pemberontakan”, ”ontran-ontran”, maka dalam gambarannya ialah darah, pertempuran, orang yang diadili massa, pembelotan, dan pergantian pemimpin. Orang dapat memakai istilah “revolusi social”, revolusi damai”, ”revolusi petani”, dan sebagainya. Semua itu mempunyai denotasi dan konotasi tersendiri.

Diantara konsep yang diambil dari ilmu social lain ialah “budaya politik”, ”patron-klien”, dan “budaya tandingan”. Dalam riset mengenai sejarah politik, istilah ”budaya politik” banyak dipakai. Banyak istilah yang dipakai untuk menunjukan pentingnya birokrasi dalam politik di negara-negara sedang berkembang, seperti ”bu reucratic politi”, ”authoritarian state”, dan “ersat capitalism”. ”Budaya politik” atau lebih tepat ”politik budaya” dapat dipakai untuk menjelaskan afliliasi politik di Indonesia. Istilah “patron-kilen” dipakai orang untuk menjawab pertanyaan mengapa sama-sama islamnya, desa-desa di Jawa Barat ada yang mengikuti Kartosuwiryo dan ada yang tidak. Teryata, bahwa itu semua tergantung pada patron, yaitu orang yang paling dipercaya pendudk desa. “Budaya tandingan” ialah budaya yang dimiliki oleh kelompk social yang berada di luar kekuasaan. Di Surakarta, pada 1900-an ada pertetangan budaya antara golongan priyayi dan santri yang merupakan penjelmaan histories dari konsep wong agung dan wong cilik. Masing-masing budaya punya orang sakti sendiri; para priayi menganggap ibunda kecil PB X yang tak pernah menikah sebagai orang sakti, sedangkan para santri mengeramatkan Gus Wayang, orang yang tinggal diluar keratin. Dua kelompok social budaya itu masing-masing juga menjadi pendukung partai yang berlainan; priyayi mendukung Bodi Utomo dan santri Sarekat islam.

Konsep-konsep itu tidak harus diambil dari ilmu lain, sejarah juga punya hak untuk membuat konsep. Konsep “renaisans”, misalnya, adalah konsep yang dibuat oleh sejarah untuk memberi simbol kepada zaman kebangitan kembali nilai-nilai kemanusiaan. Sejarawan dapat memberi nama suatu bentuk negara dengan “monarki absolut”, “monarki konstitusional”, dan sebagainya. Demikian juga “pejuang” atau “pemberontak”. Sejarawan Indonesia akan menyebut sebagai “agresi Belanda” dan Belanda “aksi polisinil” untuk mengatakan peristiwa yang sama.

GENERALISASI PERSONAL

Dalam logika ada cara berfikir yang menyamakan bagian dengan keseluruhan atau pars pro toto. Generalisai personal juga berpikir seperti itu. Misalnya, kita berpikir seolah-olah Pan-Islamisme adalah Jamaluddin Al-Afghani, pembaruan Islam di Mesir dengan Muhammad Abduh, svadeshi di India dengan Gandhi, kemerdekkan Indonesia dengan Soekarno-Hatta, dan Orde Baru dengan Presiden Soeharto. Tentu saja itu tidak selalu salah, hanya saja itu berarti meniadakan peran oran-orang lain.

Sarekat Islam selalu diidentikkan dengan Samanhudi dan Tjokroaminoto. Dalam ilmu sejarah, mengidentikkan peristiwa dengan peranan seorang pahlawan disebut dengan teori “pahlawan dalam sejarah” atau “hero worship”. Untuk mengurangi pemujaan pada pahlawan, dalam ilmu sejarah dikenal istilah “kekuatan sosial” atau “social force” yang mengatakan bahwa setiap peruahan sejarah disebabkan oleh perubahan sosial. Dalam hal Sarekat Islam ada perubahan sosial yang penting pada awal abad ke-20, yaitu kebangkitan kelas menengah pribumi.

Sementara itu, gerakan kemajuan dikalangan pribumi yang terjadi dimana-mana pada awal abad ke-20 yan mendahului Budi Utomo dan Sarekat Islam dapat dilimpahkan dalam kebangkitan kaum terpelajar.

Kita juga melihat, betapa gambaran tentang Revolusi Iran sangat dekat dengan Khomeini, padahal basis sosial revolusi itu ialah para pedagang menengah dan kecil di pasar yang menentang “revolusi putih” Syah Iran.

GENERALISASI TEMATIK

Biasanya judul buku sama dengan isi buku. Sejarah Amerikapada abad pertama ditandai dengan budaya puritan. Masa kanak-kanak dimulai dengan santai, kemudian menjelang dewasa diterapkan disiplin yang keras oleh orangtua. Untuk keperluan itu John Demosmenulis sejarah keluarga dari data kuantitatif dan literer, A Litle Commenwealth: Family Life in Plymouth Colony. Yang menjadi dasar dari agama sipil di Amerika adalah rasa malu dan rasa bersalah orang-orang Puritan.

Buku Mahatma Gandhi (1869-1948), An Autobiogaphy: Or My Experiments with Truth, mencerminkan, seprti judulnya, yaitu percobaan Gandhi untuk menyatakan kebenaran. Buku itu berisi kisah hidup Gandhi; keluarganya, sekolahnya, perjuangannya bersama para buruh India di Afrika, dan perjuangannya di India. Buku itu kemudian menjadi sumber untuk buku sejarah kejiwaan (psychohistory) Erik Erikson yan menganalisis asal usul kejiwan Gandhi. Diceritakan, di antaranya, sebab musabab Gandhi berjanji untuk tidak menyentuh perempuan ialah rasa bersalah yang luar biasa pada ayahnya.

Demikian juga buku yang telah ditulis orang mangenai Presiden Soeharto, O.G. Roeder, Anak Desa, yang melukiskan bahwa pada hakikatnya presiden itu ialah anak desa. Bioigrafi itu ternyata tidak jauh dari kenyataan, kalau kita lihat betapa akrab presiden dengan orang kecil. Seolah-olah judul biografi itu membuat kesimpulan umum tentang psikologi Pak Harto.

GENERALISASI SPATIAL

Kita sering membuat generalisasi tentang tempat. Pikiran sehari-hari membuktikan hal itu. Orang luar kota selalu membayangkan bahwa setiap hari orang Yogya makan “kolak kedelai”, nama yang diberikan untuk temp bacem. Demikianlah, untuk Korea, Jepang, dan Cina kita menyebutnya  dengan Timur Jauh atau Asia Timur, untuk sebagian besar negara-negara Arab, Turki, dan Iran kita menyebutnya Asia Barat, Asia Selatan untuk India, Pakistan, dan Bangladesh, dan Asia Tenggara untuk negara-negara ASEAN dan Filipina.

Ketika Sultan Agung menaklukkan daerah-daerah di sebelah timur, kita menyebutnya kota pantai. Untuk menentramkan penduduk kota pantai yang beragama Islam itu, Sultan Agung mengubah kalender dari tahun matahari menjadi tahun bulan. Mereka yang tidak setuju dengan kebijakan Sultan Agung menyingkir ke pesisir barat, daerah yang aman dari kekuasaan kuta negara.

Kita juga dapat berbicara tentang kota-kota di Selat Madura seperti disertai F.A. Soetjipto, “Kota-kota Pantai di Sekitar Selat Madura”. Tempat yang dihubungkan oleh sungai, laut, dan lembah dapat menjadi satuan geografis yang mempunyai ciri-ciri sama. Ciri-ciri itu tidak perlu sama; bahkan mungkin bertentangan, tetapi jadi satuan geografis. Di Myanmar atau Birma, penduduk gunung atau lembah mempunyai peranan saling melengkapi. Di Sumatera Barat ada konsep tentang rantau dan darat.

Sekarang kita mengenal ITB dan IBB berdasarkan pembangunan, dahulu kita dibagi kurang lebih berdasar ekologi menjadi Inner Indonesia dan Outer Indonesia. Daerah Inner Indonesia yang pada umumnya daerah sawah dan Outer Indonesia yang pada umumnya berekologi padang.

GENERALISASI PERIODIK

Apabila membuat periodisasi, kita pasti membuat kesimpulan umum mengenai sebuah periode. Zaman Pertengahan di Eropa disebut orang The Age of Belive karena pada zaman itu orang cenderung menggunakan Kitab Suci daripada menggunakan pikiran. Penyebutan sebuah periode tentu saja tergantung pada sudut pandang orang dan tergantung jenis sejarah yang ditulis. Periodisasi orang-orang liberal lain dengan orang-orang Marxis. Demikian juga periodisasi sejarah politik dapat berbeda dengan periodisasi sejarah sosial.

Orang Barat menyebut zaman sesudah Zaman Pertengahan dengan sebutan Zaman Modern, sedangkan seorang Protestan menyebutnya dengan The Protestant Era. Sejarawan Indonesia menyebut zaman sesudah Zaman Islam dengan sebutan Zaman Kolonial, sedangkan sejarawan lainmenyebutnya dengan Da Gama Period, sementara itu sejarawan Belanda merasa cukup dengan sebutan “ekspansi Eropa”. Itu semua  dengan alasan masing-masing.

Disertai Darsiti Soeratman, “Kehidupan dalam Keraton Yogyakarta,1830-1939, juga memerlukan sebuah generalisasi tentang keadaan sosial-budaya keraton dari perode yang dibicarakan, kalau orang ingin mendapatkan gambaran yang utuh.

Periode Liberal di Indonesia yang dimulaitahun 1870 dengan Undang-Undang Agraria yang berakibat masuknya modal swsata, sering digeneralisasikan dengan periode menurunnya kemakmuran. Pemerintah sejak tahun 1900-an mengadakan penelitian melalui sebuah komisi, Mindere Welvaart Commissie yang oleh wartawan pribumi diejek dengan singkatan “M.W.C” (alias mindere wc, wc yang lebih kecil). Menurutnya kemakmuran itulah yang di antaranya mendorong pelaksanaan Politik Etis.

GENERALISASI SOSIAL

Bila kita melukiskan suatu kelompok sosial dalam pikiran kita sudah timbul generalisai. Kata petani barangkali mempunyai konotasi yang bermacam-macam, sesuai dengan tempat dan waktu yang dibicarakan. Dalam bahasa Inggris ada perbedaan antara peasant dengan farmer. Petani di Eropa dulu dan Tiomgkok lama lebih sesuai disebut peasant karena terikat dengan tanah dan bertani lebih sebagai jalan hidup daripada sebagai usaha. Baik di Eropa dan Tiongkok ada feodalisme. Akan tetapi, bagi petani di Indonesia pada umumnya, meskipum tidak ada feodalisme, tetapi ada patrimonialisme; petani juga lebih tepat disebut dengan peasant. Karena itu, peasant bisa diterjemahkan dengan petabi, sedangkan farmer dapat diterjemakan sebagai pengusaha-tani.

Kalau kita bicara tentang petani di Indonesia pada abad ke-19, yaitu di dua Kerajaan Jawa, Surakarta dan Yogyakarta, petani merupakan bagian dari masyarakat secara keseluruhan dan bagian dari budaya secara keseluruhan. Petani tidak dapat dibayangkan tanpa masyarakat bangsawan dan budaya keraton yang didukungnya. Lain halnya kalau kita berbicara tentang pengusaha-tani di Amerika. Sebelum Perang Saudara, kebanyakan pengusaha-tani di Amerika bagian selatan adalah tuan tanah. Merekalah yang mendukung perbudakan orang-orang kulit hitam.

Jadi, gambaran umum kita mengenai petani tetap merupakan sebuah generalisasi, yang harus disepsifikasikan. Demikian pula generalisasi kita tentang elite kekuasaan yang berada di atas petani. Juga generalisasi tentang kelompok sosial lain, seperti “buruh”, “ulama”, “orang sekuler”, “orang Islam”. Generalisasi itu kita perlukan asal diikuti dengan spesifikasi. Sejarah adalah ilmu yang sekaligus melakukan generalisasi dan spesifikasi. Diharapkan tulisan sejarawan akan berimbang.

GENERALISAI KASUAL

Bila kita membuat generalisasi tentang sebab musabab keseimbangan, perkembangan, pengulangan, dan perubahanm sejarah, langkah itu disebut generalisasi kasual. Pada tingkat individual, kita sering membuat kesimpulan umum tentang sebab-sebab orang berubah. Banyak faktorbanyak faktor yang sering kita tunjuk, seperti masalah moral, ekonomi, pangkat, dan sebagainya. Tidak lepas dari generalisasi kasual adalah keluarga, desa, satuan di atas desa, negara, masyarakat, budaya dan sejarah.bila kita memastikan hanya satu saja yang menyebabkan, itu disebut determinsme. Determinisme yang selalu bersifat filosofis itu ada dua, yaitu idealisme dan materialisme. Pada idealisme yang menggerakkan sejarah adalah ide, sedangkan materialisme menganggap materilah yang menggerakkan sejarah. Idealisme diwakili oleh Hegelianisme, dan materialisme oleh Marxisme. Yang terakhir itu sering disebut dengan Materialisme Historis atau determinisme historis. Determinisme itu berlaku secara apriori, sebelum mengetahui (bahasa Latin prior berarti yang pertama). Persoalan bagi segala macam determinisme ialah apakah gerakkan-grakkan dalam sejarah itu mekanistis, jadi bergerak dengan sendirinya seperti mesin, ataukah ada campur tangan manusia.

Generalisasi sejarah selalu bersifat aposteriori, sesudah pengamatan (bahasa Latin posteriori berarti kelanjutan). Edward Gibbon (1737-1794), seorang sejarawan Inggris, yang menulis The History of the Decline and Fall of the Roman Empire melihat bahwa maju dan mundurnya sebuah empirium adalah ada dan tidaknya cita-cita kemajuan.

Ada “teori” bahwa pindahnya pusat kerajaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, karena letusan gunung berapi yang menyebabkan daerah-daerah di Jawa Tengah tidak layak huni (sebab geografis), atau penduduk di Jawa Tengah terlalu padat, sehingga sumber alam tidak bisa mendukung (sebab kependudukan), atau karena ditemukannya bata yang lebih ringan di daerah yang baru (sebab teknologis). Demikian juga perpindahan pusat kerajaan Jawa dari pantai utara ke daerah pedalaman di selatan.

T. Ibrahim Alfian dalam Perang di Jalan Allah mengemukakan bahwa Perang Aceh bisa bertahan begitu lama ialah karena ideologi jihad. Masyarakat Banten dan Madura sama-sama pemeluk Islam yang fanatik, tetapi di Banten terus-menerus ada pemberontakan. Ternyata, sebabnya ialah “surplus sosial”. Di Banten orang punya modal untuk memberontak, di Madura tidak.

Yang terlupakan oleh determinisme ialah faktor manusia. Biarlah masyarakat dan sejarah itu tetap terbuka. Kadang-kadang dari dunia “merdeka” sendiri timbul ancaman terhadap keterbukaan itu. Menurut James Peacock dan Thomas Kirsch dalam The Human Direction, evolusi manusia menunjukkan bahwa mula-mula Tuhan itu banyak, lalu jadi tiga, kemudian tinggal satu, yang satu ini mula-mula bersifat personal, kemudian menjadi impersonal, dan akhirnya Tuhan yang telah meninggal. Kata mereka, dunia sedang menuju pada sekulerisme seperti masyarakat Amerika. Itulah nasib manusia yang tak terelakkan.

GENERALISAI KULTURAL

Para pelaku sejarah sendiri kadang-kadang melakukan generalisasi kultural. Tidak ada anak-anak ulama yang masuk sekolah umum sebelum kemerdekaan. Dan sebaliknya, Belanda pernah menyamakan haji dengan rentenir. Dalam laporan Mindere Welvaart Commissie, jumlah haji di Madura persis jumlah rentenir.

Demikian apa yang dikerjakan ulama dari Pekalongan, Kiai Rifai yang dibuang ke Ambon pada 1859, ialah generalisasi kultural. Ia menyusun kitab-kitabnya dengan bahasa pesisir. Kita dapat menduga itu dikerjakannya juga sebagai simbol perlawanan terhadap patrimonialisme dan kolonialisme. Perlawanan terhadap patrimonialisme karena di Kejawen ajaran Islam ditulis dalam tembang-tembang dan perlawanan terhadap kolonialisme dinyatakan dalam bentuk yang konkret, berupa penolakan terhadap penghulu yang diangkat oleh pemerintah.

Kita dapat melakukan penelitian sejarah berdasar atas generalisai kultural “daerah hukum adat” yang dibuat oleh Van Vollenhoven dan Ter Haar. “daerah hukum adat” yang mirip dengan konsep “cultural area” dapat kita jadikan wilayah natural untuk sejarah agraria atau sejarah politik di tingkat lokal.

Agak terlalu makro ialah tulisan-tulisan Arnold J. Toynbee (1889-1975), A Study Of History dan buku yang kecil The World and the West, yang menjadikan “civilization” sebagai suatu unit studi seajarah. Ia mengemukakan bahwa peradaban itu mengalami empat masa seperti siklus musim, yaitu tumbuh, berkembang, menurun, dan jatuh. Bukunya, A Study of History, mengemukakan bahwa turun naiknya peradaban itu tergantung pada hukum “tantangan dan jawaban” atau “challenge and response”. Dalam bukunya The World and the West, ia juga membuat semacam hukum radiasi peradaban. Dikatakanya, bahwa peradaban yang masuk ke peradaban yang lain itu akan diuraikan, seperti sebuah sinar  akan diuraikan oleh sebuah prisma. Teknologi lebih mudah diserap daripada elemen peradaban lainnya.

GENERALISAI SISTEMATIK

Kita sering membuat kesimpulan umum tentang adanya suatu sistem dalam sejarah. Dalam sejarah ekonomi , hubungan antara Afika, Amerika, dan Eropa sebelum Perang Saudara dapat digambarkan sebagai sebuah sistem. Afrika mengirim tenaga (budak) ke Amerika, Amerika mengirim bahan mentah (kapas) ke Eropa, dan Eropa (Inggris) mengirim barang jadi (tekstil) ke Afrika.kita juga melihat jalan sutra dari Tiongkok ke Eropa pada zaman kuno; satu melalui darat lewat asia tngah, dan yang lain lewt laut melalui Indonesia. Orang Jawa juga mengekspor beras ke Indonesia timur. Kita juga tahu perdagangan lada dari Indonesia sampai Eropa.

Jalur perjalanan yang sifatnya lokal juga dapat kita rekonstuksikan. Kita tahu dari Babat Tembayat bahwa ada jalan dari Semarang ke Klaten yang melewati Salatiga. Kita juga tahu sumber-sumber VOC ada jalan dari Semarang ke Yogyakarta melalui Magelang. Dari tembang macapat kita tahu ada jalan sungai lewat Bengawan Solo yang dilalui Jaka Tingkir. Jalan yang sama, dari Solo sampai Bojonegoro, juga dilalui para pedagang. Itu kita ketahui lewat nyanyian dan koran, saerta masih bisa kita lacak lewat sejarah lisan. Pola migrasi ke kota juga bisa kita lacak lewat sejarah lisan. Di kota seperti Yogyakartya, kaum migran dari selatan selalu tinggal di sebelah selatan kota.

GENERALISASI STRUKTUAL

Kita sering heran, mengapa orang asing lebih peka daripada kita sendiri, mengenai orang Indonesia. Sering ketika kita sedang berjalan di negeri orang, yang tidak terdapat orang Indonesia, tiba-tiba kita ditegur dalam bahasa Indonesia, oleh orang kulit putih. Atau, ketika kita sedang berjalan-jalan dengan orang kulit putih, tina-tiba orang itu menunjuk beberapa rombongan orang kulit sawo matang, dan menegur salah satu rombongan dengan bahasa Indonedia. Ternyata, orang-orang asing telah mempelajari dengan cermat struktur tubuh, cara berjalan, grak-gerik tubuh, cara bicara, dan cara diam kita. Dengan kata lain, orang asing itu telahy mempelajari susunan kita, struktur kita, mereka telah membuat generalisasi struktural mengenai orang Indonesia.

Sebenarnya, kita juga mempunyai kebiasaan yang sama. Kita akan heran sendiri, bagaimana kita tahu kawan kita dari Sumatera atau Kalimantan meskipun sama-sama berkulit kuning; bukan berasal dari NTT tetapi dari Irian Jaya meskipun sama-sama keriting. Orang Katolik bukan Protestan,meskipun sama-sama alim; orang NU bukan orang Muhammadiyah, meskipun sama-sama ke masjid. Orang Amerika dan bukan orang Belanda, meskipun sama-sama berkulit putih; orang Jepang bukan orang Cina, meskipun sama-sama bermata sipit dan berambut lurus.

Demikian juga banyak orang tahu siapa akan terpilih jadi Ketua PBNU dalam Muktamar 1994. Banyak orang bisa menduga apa yang akan dikerjakan Amerika di Irak dan Haiti pada 1994. Sejarawan Taufik Abdullah dapat menduga reaksi veteran perang Belanda atas usulan Pronk di akhir tahun 1994 supaya orang Belanda menghormati perayaan kemerdekaan Indonesia 17 Agustus.

Semua itu karena stucture of events, susunan peristiwa, sudah diketahui. Misalnya, mengenai Amerika. Politik luar negeri Amerika ternyata diatur oleh national interest, kepentingan nasional. Definisi kepentingan nasional itu tampaknya berubah-ubah. Suatu kali idealisme, seperti HAM; kadang-kadang realisme seperti minyak. Ketika Indonesia bertika dengan Belanda 1945-1950 pada mulanya minyaklah (realisme) yang menjadi perhatian Amerika, dan bukan hak menentukan nasib sendiri. Karena itu Amerika tampak konservatif. Politik ini berubah menjadi idealisme (containment, membendung komunisme) setelah terbukti Indonesia menumpas komunisme pada 1948. Sebagai pragmatis, Amerika lebih banyak didominisi realisme.

D. HIPOTESA DAN HUKUM

Ada dua generalisasi yang dipakai dalam kegiatan keilmuan, yaitu hipotesa dan hukum (laws). Keduanya memiliki struktur yang sama. Sulit bagi kita untuk membedakan apakah kalimat “Kelompok elit yang frustasi cenderung bertindak agresif”, itu tergolong hipotesa atau hukum, kalau kita tidak tahu konteksnya. Yang membedakan ke­dua jenis generalisasi itu adalah derajat kepastiannya. Hipotesa, pada dasarnya, adalah dugaan tentang hubungan di antara.konsep-konsep. Sesudah diuji dengan bukti-bukti yang ada berdasarkan asas-asas me­tode saintifik, generalisasi itu bisa diterima atau ditolak. Kalau sesudah diuji berkali-kali generalisasi itu bisa diterima, maka generalisasi itu disebut hukum. Karena itu kita bisa mengatakan bahwa hukum adalah hipotesa yang “terbukti benar”. Karena hipotesa dan hukum memiliki struktur yang sama, dan hanya berbeda daiam hal dukungan empiris, maka, kita bisa membahas keduanya dengan istilah “generalisasi”.

Dalam proses keilmuan, generalisasi bisa herada &lam tahap­tahap keilmuan yang berbeda. Gen

eralisasi empiris dirumuskan langsung dari hasil pengamatan empiris; sedangkan hipotesa dirumuskan dengan proses logika deduktif. Untuk rnenggambarkan perbedaan ini dengan lebih jelas kita bisa menlit3;am tipologi yang dibuat oleh Wallace. Ilmuwan ini merumuskan ernpat tipe proposisi (atau, pernyataan tentang realitas) berdasarkan dua kriteria:

  1. Apakah proposisi itu punya basis ernpiris?„ atau
  2. Apakah proposisi itu punya basis teoritis?’

DUKUNGAN EMPIRIS

ADA TIDAK ADA
Hukum/(Theoretic Invariance)

Generasi Empiris

Dugaan/Fantasi/imaginasi/idea

Dalam gambar di atas generalisasi dibagi n.ienjadi tiga, yaitu generalisasi empiris, hukum, dan hipotesa.

Generalisasi empiris adalah proposisi yang memihki dukungan em­piris tetapi tidak didukung oleh teori. Hukum adalah proposisi yang mendapatkan dukungan empiris maupun teoritis. Hipotesa adalah proposisi yang memiliki dukungan teoritis tetapi tidak didukung oleh fakta empiris. Gambar itu juga bisa dipakai untuk menunjukkan dua jalan menuju pembentukan teori.

Jalan pertama, adalah “dugaan — hipotesa hukum”, maksud­nya proses pembentukan teori bermula dengan memakai teori yang ada (atau; yang Iebih Ionggar disebut “kerangka berpikir”) dan dad teori itu dideduksikan “dugaan-dugaan” sebagai hipotesa baru. Hipo­tesa itu kemudian kita uji dan hasil pengujian itu kita induksikan ke dalam teori sebagai hukum.

Jalan kedua, adaiah “dugaan — generalisasi empiris hukum”. Yakni kita mulai dengan membentuk suatu pola hasd observasi dan dugaan itu diinduksikan ke dalam pola itu sebagai kasus baru, dan hasil induksi ini diinduksikan lagi ke dalam teori sebagai hukum.

E. GENERALISASI DAN KAUSALITAS

Generalisasi “Jika A, maka B” bisa ditafsirkan sebagai “A rnenyebabkan terjadinya B”. “Jika suatu bangsa makmur, maka ia demokratis” bisa ditafsirkan sebagai “kemakmuran menyebabkan timbulnya demokrasi”. Pengertian generalisasi mempunyai hubungan dengan pengertian kausal; bahkan hubungan kausal sebenarnya adalah salah satu jenis generalisasi. Pernyataan bahwa “A menyebabkan timbuinya B” adalah sama saja dengan mengatakan bahwa “B selalu terjadi sesudah terjadi A”, maka sebetulnya keduanya bisa dikembalikan ke bentuk generalisasi: “Jika A, maka B”. Dengan kata lain,kita bisa mengatakan apa yang secara tradisionai dikenal hubungan kausal tanpa menggunakan istilah “sebab”. Misalnya seorang ilmuwan ingin menjelaskan mengapa perang terjadi dan rnerumuskaan. pernyataan “jika terjadi persaingan ekonomi, maka terjadi perang”. Ini sekedar bentuk generalisasi dari pengamatan bahwa “persaingan ekonomi di antara negara-negara cenderung diikuti oleh terjadinya konflik militer”. Tanpa memakai kata “menyebabkan”, kita sudah paham.

Walaupun demikian kita masih perlu membedakan generalisasi yang kausal dan generalisasi yang non-kausal, dan dengan demikian tetap memakai istilah “sebab” itu. Dalam hal ini kita perlu membahas generalisasi cross-sectional dan generalisasi kausal atau temporal. Generalisasi cross-sectional menggambarkar hubungan antara dua va­riabel pada saat yang bersamaan. Generalisasi ini bukan hubungan sebab-akibat, karena satu variabel diketahui tidak terjadi atau ada se­belum variabel yang lain. Generalisasi yang tidak menunjukkan urut­urutan waktu adalah generalisasi yang cross-sectional. Misalnya, “Se­makin teralienasi seseorang, semakin rendah partisipasi =” Orang yang punya karakteristik “teralienasi” juga punya karakteristik “berpartisipasi rendah”. Generalisasi ini menunjukkan mana yang lebih dahulu. Sedangkan generalisasi kausal menegaskan adanya urut-urutan waktu, yaitu satu variabel ada atau terjadi lebih dahului daripada variabel yang lain. Misalnya, “Orang yang frustasi cenderung agresif”. “Kenaikan .gaji selalu diikuti dengan kenaikan harga”.

MAKALAH

DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/generalisasi_sejarah/2009

Sjamsuddin Helius(2001).Metodologi Sejarah.Jakarta:Gramedia

Kuntowijoyo(1999).Pengantar Ilmu Sejarah.Yogyakarta:Bentang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s