Salahkah Jika Ve Menjadi Lesbian????????? (PART I)

Minggu yang indah di Malioboro, suasana pasar kebanggaan Yogyakarta sudah ramai dipenuhi manusia. Seperti kebanyakan pemuda-pemudi Jogja yang lainnya, Ve pun mahasiswa pendatang yang tak mau ketinggalan dengan teman-teman yang lainnya sesama pendatang. Konon cerita dari orang Jogja asli, mereka yang senang nongkrong dan berbuat onar bukanlah warga asli Jogja. Sebagian besar adalah warga pendatang yang notabene berstatus mahasiswa.

Tingkah nakal remaja Jogja sudah terkenal hingga berbagai sudut. Mereka yang terkenal sebagai anak-anak nakal, doyan narkoba dan ngeseks bebas. Kabar demikian juga terdengar oleh orang tua Ve yang dengan terpaksa menyekolahkan anaknya di salah satu universitas negeri di Yogyakarta. Ve adalah anak perempuan satu-satunya dan anak terakhir dari seorang PNS di kota kecil Purbalingga. Jauh dari orang tua dan tidak adanya saudara di Jogja memaksa Ve untuk tinggal di rumah kos. Kamar kos berukuran 3 x 3 adalah rumah baru bagi Ve. Paling tidak sebelum ia tinggal bersama pacarnya disebuah kontrakan.

Sebagai mahasiswa hukum, setiap hari ia selalu dicekoki urusan hukum-hukum yang kerap kali membuatnya mengumpat dalam batin kepada oknum hukum di Indonesia. Sebenarnya menjadi seorang ahli hukum bukanlah pilihan hatinya. Sama kasusnya dengan kebanyakan mahasiswa, bahwa masuk kuliah dengan jurusan yang terpaksa. Keinginan hatinya menjelang kelulusan adalah menekuni dunia seni lukis yang menjadi bakatnya dari kecil. Hasil karya lukisannya pernah dinobatkan sebagai pemenang dalam lomba lukis tingkat Provinsi. Harapannya dengan prestasi-prestasi yang telah diraihnya itu, akan menjadi mudah untuk masuk menjadi mahasiswa seni. Ternyata kenyataan mengatakan lain, keterpaksaannya masuk jurusan hukum adalah karena orang tuanya. Ayahnya sangat terobsesi menjadikan Ve pengacara.

Keterpaksaan bukan menjadi sebuah alasan bagi Ve tidak berprestasi. Meskipun rasanya berat menjadi mahasiswa yang menekuni bidang hukum dan harus selalu update perkembangan hukum di Indonesia dan internasional. Dia selalu berusaha mengumpulkan referensi-referensi demi memperluas ruang imajinasinya dalam menganalisis suatu kasus.

Semester pertama dan kedua, ia menunjukan keseriusannya kuliah, IPS yang ia peroleh pun nyaris sempurna 3,94 dan meningkat lagi menjadi 3,96. Ayahnya pun sangat bangga pada dirinya dan menepis anggapan bahwa sekolah di Jogja akan membawa pengaruh buruk terhadap pergaulan anaknya dan juga prestasinya. Ve pun semakin berada di atas angin manakala ia diminta oleh dosennya menjadi assisten dosen untuk salah satu mata kuliah. Ve tak pernah menyangka di semester III yang terbilang masih muda bisa memperoleh keberuntungan semacam itu. Kekaguman dari teman-temannya pun mengelilingi gadis semampai ini.

Lelah mencari referensi di perpustakaan, Ve sering kali menghabiskan sisa waktunya di Foodcourt untuk bersantai sambil browsing internet. “Hey, nama kamu Ve?” sapa seorang pemuda yang duduk disamping Ve persis. Ve adalah seorang gadis yang tidak suka berbasa-basi dengan orang yang belum dia kenal. Dia pun membalas sapaan pemuda itu hanya dengan anggukan kepalanya. Pemuda itu tidak juga menyerah untuk mengajak Ve ngobrol. Dia mencondongkan badannya untuk melihat notebook yang tengah berada dihadapan Ve.

“Kau juga suka game Onet?” Tanya pemuda itu.

“Gak penting kan jika aku menjawab pertanyaanmu.” Jawab Ve dengan sinis

Pemuda itu semakin mendekatkan mukanya pada layar notebook, dia sambil menunjuk dua gambar pokemon-pokemon yang ada di game onet. Ve paling tidak suka jika ia tengah asik bermain diganggu orang lain. Tak heran jika selama kuliah Ve hanya memiliki dua orang teman yang selalu setia bersamanya. Entah apa yang membuat mereka bertahan dengan Ve, apakah karena ia mahasiswa yang cerdas yang mungkin bisa dimanfaatkan otaknya, ataukah kepribadian mereka yang sama. Sama-sama angkuh.

Tanpa banyak kata Ve kemudian men-shutdown notebook dan membawanya pergi menjauh dari pemuda berkumis tipis itu. Cepat-cepat Ve pergi dari Foodcort setelah membayar makanannya. Pemuda itu dengan gigih mengikuti Ve yang berjalan dengan langkah kaki seribu. Orang tua Ve memang sengaja tidak memberi kendaraan padanya, dengan tujuan agar putri kesayangannya itu tidak suka bepergian malam.

Sampai pada rumah kos yang hanya berjarak 1 kilometer dari kampus. Ternyata pemuda aneh yang sedari tadi mendekati Ve juga masih setia membuntuti. Hingga akhirnya menyulut emosi Ve. “Kau ini punya tatakrama gak si, gila kamu ya. Apa si sebenarnya maumu?” bentak Ve

“Aku cuma ingin kenalan sama kamu Ve. Kenalkan namaku Dika, kakak angkatanmu.” Sembari mengulurkan tangannya berharap tangan putih Ve menyambutnya.

“Kau sudah tau kan nama aku, dari tadi kamu manggil-manggil aku di jalan kaya orang gila.”

Pemuda itu menyunggingkan senyumnya dan menganggukan kepala pelan. Keduanya duduk di serambi kos. Hampir 15 menit berlalu, Dika hanya sibuk menceritakan hal-hal tentang dirinya dan kuliahnya. Dari ceritanya ia juga bernasib serupa dengan Ve, menjadi mahasiswa hukum karena keterpaksaan. Selama itu, Ve belum juga membuka mulutnya untuk sedikit menanggapi cerita dari Dika.

“Sudah selesai ngocehnya? Sepertinya masih banyak kegiatan bermanfaat daripada sekedar mendengarkan ceritamu yang gak ada gunanya.”

“Ve, aku ini hanya mau kenalan sama kamu, dan nyoba untuk dekat dengan kamu. Aku dah lama merhatiin kamu. Mahasiswi angkatan muda yang dah bisa meluluhkan hati Bu Lian dosen Hukum Pidana yang terkenal galak dan sadis itu. Kamu ini warga pendatang disini Ve, gak sepantasnya kamu sombong di tempat orang.”

Kalimat terakhir Dika membuat Ve semakin geram, dia berdiri dan menyeret tangan Dika keluar. “Aku memang tidak punya tatakrama, sombong, angkuh gak tau diri sudah numpang di kota orang lain. Lantas mau kamu apa? Ngusir aku dari Jogja? Ngeluarin aku dari kampus? Aku akan sangat berterima kasih dengan anda karena telah memberi saya pencerahan bahwa anda bukan orang yang pantas saya hormati.”

Dika pun tak bisa berkata apa-apa. Dengan amarah yang tertahan dia keluar dari gerbang kos untuk pergi. Bagi Ve, kejadian semacam ini tidak perlu menjadi persoalan. Dalam benaknya, yang dia butuhkan di Jogja hanyalah gelar Sarjana Hukum yang nantinya akan ia persembahkan pada Ayahnya. Satu-satunya orang tua setelah beliau ditinggal mati istrinya. Ve menjadi anak yatim setelah kebakaran rumah yang menimpa manakala Ve duduk di bangku kelas VIII SMP. Kecelakaan itu merenggut nyawa ibu dan kakak pertamanya yang ketika itu sedang mengambil studi S1 Hukum di univerisitas yang sama dengan Ve kini.

Arti seorang ibu bagi Ve sangatlah besar. Beliau yang sanggup mengerti apa keinginan Ve, apa yang menjadi bakatnya selama ini. Kini sosok itu sudah tidak ada, yang ada hanyalah dirinya dan satu kakak laki-lakinya yang autis. Ve menjadi satu-satunya harapan keluarga. Segala bentuk aktivitasnya terekam oleh sang ayah. Mungkin karena didikan ayahnya yang begitu protektif yang membuat Ve menjadi sosok pendiam dan lebih tertutup.

“Ve, boleh minta coklatnya?” teman kos Ve yang bisa dibilang paling dekat dengannya. Meskipun kedekatan mereka tidak seperti anak-anak kos yang lainnya.

“Ya, ambil aja, aku juga dah enek banget makan tu coklat, gak efek sama amarahku.”

“La emang kamu lagi marah sama sapa Ve, sama cowokmu yang tadi itu?”

“Ade… dia bukan cowokku, hanya orang gila yang mau sama cowok gila kaya dia. Bayangin aja, tiba-tiba dia nongol kaya hantu minta kenalan, ngaku-ngakunya kakak angkatan aku dan dah lama ngintai aku. Udah kaya elang aja tuh orang pake acara ngintai-ngintai segala.” Ade hanya tersenyum dan berbisik pada Ve bahwa Dia itu naksir sama Ve.

Ve memikirkan apa yang dikatakan Ade, jika benar Dika memang menyukai dirinya, akan ada masalah apalagi yang mendekatinya. Sampai usianya 18 tahun, Ve tidak pernah merasakan apa yang namanya pacaran. Tersadar dengan usianya yang sudah tua itu. Ve tahu bahwa yang bisa mengubah hari-harinya adalah dengan mencicipi indahnya masa remaja dengan berpacaran.

“Ve, apa yang kamu pikirkan. Mereka itu gak penting, semua laki-laki itu over protective kaya bapakmu itu.” Ve menggerutu pada dirinya sendiri. Bagi Ve semua laki-laki itu sama seperti ayahnya, tidak ada yang bisa mengerti perasaan orang.

Aktivitas seorang mahasiswa adalah belajar dan terus belajar. Dalam rak buku kamar Ve, penuh dengan literature-literatur hukum, baik berbahasa Indonesia maupun berbahasa Inggris. Selain buku di rak yang meludak, dinding kamarnya pun penuh dengan lukisan-lukisan mulai dari pemandangan, gambar bentuk tubuh sampai pada coretan-coretan kuas yang tidak beraturan, mungkin hanya seniman yang bisa mengartikan makna lukisan itu.

Hari itu, Ve terlihat sangat buru-buru berangkat ke kampus. Ia hanya membawa tas kecilnya dan flashdisk yang ia gantungkan di leher. Pakaiannya cukup rapi namun tetap casual. Rambut seperti biasa hanya dikuncir satu di belakang. Inilah gaya Ve yang sederhana dan nyantai. Ia berangkat langsung menuju ruang dosen menemui Bu Lian.

“Bu, maaf saya telat. Semalam saya mempelajari bahan yang Ibu berikan.”

“Iya, gak masalah Ve. Saya mengucapkan terima kasih kamu mau menggantikan saya hari ini, untuk mengajar mahasiswa semester I itu.”

“Sama-sama bu. Sudah jadi tanggung jawab saya.”

“Oya, selain angkatan baru, ada juga beberapa mahasiswa semester tua yang mengulang. Tolong bantu mereka Ve.” Tutur Bu Lian sambil menjinjing tasnya meninggalkan ruangan.

“Dengan senang hati.” Jawab Ve singkat.

Inilah kali pertama Ve menjalankan tugas sebagai seorang assisten dosen. Semua yang ia butuhkan telah ia persiapkan. Hingga latian mengajar pun telah ia lakukan di depan kaca kamarnya. Ia memang gadis yang cuek, dan percaya diri. Namun kali ini tidak seperti biasanya. Ia harus menyalurkan ilmu pada orang lain.

Jam menunjukan pukul 07.00 WIB. Saatnya Ve beraksi sebagai seorang pendidik. Ia menuju kelas Hukum Pidana regular. Seperti biasa, kelas Bu Lian selalu penuh. Hal ini juga dikarenakan, adanya ancaman dari Bu Lian ‘barang siapa yang berani mbolos di mata kuliahnya maka ia akan siap mengulang di tahun berikutnya.’ Ve malangkahkan kakinya memasuki ruang kelas. Ve berdiri di tengah dan membuka perkuliahan.

“Perkenalkan saya Ve. Saya ditugaskan Ibu Lian untuk menggantikan beliau mengajar hari ini. Pembelajaran ini demokratis, jadi jika kalian ingin mengoreksi apa yang saya sampaikan, dengan senang hati saya menerimanya.”

Semua terdiam melihat Ve didepan. Entah apa sebabnya. Ve merasa kurang nyaman jika keberadaannya selalu diamati begitu. Ve menyampaikan butir-butir materi yang berkaitan dengan Pengantar Hukum Pidana. Dia paling tidak suka dengan cara mengajar menggunakan power point. Menurutnya metode pembelajaran seperti itu tidak mendidik, karena anak-anak diajarkan untuk menyukai hal-hal yang instan.

“Ibu Ve, apa anda merasa anda pantas mengajar diruangan ini?” Celetuk salah seorang mahasiswa yang duduk di pojok belakang. Ve langsung tertegun mendengar pertanyaan semacam itu. Dengan santai Ve menjawab pertanyaan itu. “Oke, kelas ini kelas demokratis, kalian boleh juga melontarkan pertanyaan bebas, kritik maupun saran. Kalau boleh tahu siapa nama anda?”

“Namaku Justin Bieber.” Jawaban itu mengundang tawa seluruh ruang kelas, nama aslinya Firman anak angkatan tua yang tidak juga hengkang dari universitas. Ve semakin merasa dipermainkan. Dia tidak mau menunjukan kemarahannya di hadapan para adik angkatannya.

“Justin. Nama saya Ve, saya sama dengan anda yang masih tercatat sebagai mahasiswa program studi Hukum Pidana masih semester lima. Saya diminta Bu Lian, untuk menyampaikan Pengantar Hukum Pidana. Saya merasa pantas berada diruangan ini maka saya pun pantas. Anda sepertinya angkatan diatasku, apa anda juga merasa pantas berada diruangan ini? Mengulang mata kuliah dasar. Anda tidak malu dengan adik angkatanmu ini. Patutnya anda bias memberi contoh yang baik bagi kami.”

Firman pun tersendak tidak bias menjawab pertanyaan Ve. Kalimat Ve seakan merendahkan martabatnya dihadapan mahasiswa yang lain. Firman seakan tersabet oleh petir disiang bolong, lidahnya terasa kaku, alisnya yang tebal bergerak mengikuti kelopak matanya yang menyipit. Ia menutup bukunya dan beranjak dari tempat duduk untuk pergi.

Ve hanya terdiam tak berkomentar apapun melihat Firman yang pergi meninggalkan kuliahnya. Kuliah pun dilanjutkan hingga jam kuliah habis. Para mahasiwa dia persilakan terlebih dahulu meninggalkan ruangan sementara ia merapikan buku-bukunya dimeja. Semua buku ia masukan dalam tas gendongnya. Tas coklat lusuh yang telah menemaninya dalam menumpuk berbagai pengalaman semasa hidupnya. Bercak warna-warni pun memberi tambahan warna tersendiri sebagai kenangan terindahnya dikala mengikuti lomba lukis ketika masa SMA.

“Ve.”

Suara seseorang itu mengagetkan Ve, dan didapati suara itu berasal dari pria yang masih terduduk di bangku pojok kelas. Ia mencoba mengingat siapa sosok itu, ia ingat betul dengan muka pria itu.

“Maaf, anda siapa? Apa Anda mengikuti kelas ini tadi?”

“ Ve, selain kau itu kasar dan membuat mahasiswa keluar dari kelas, kamu juga sosok pelupa. Kau pikir kau hebat bisa berdiri di depan kelas mengajari kami apa hukum pidana, apa itu kejahatan? Kau pikir kau hebat, hah?” bentak pria itu.

“Kau, Dika? Mahasiswa semester atas yang mengulang mata kuliah dasar Hukum Pidana, dan ini adalah kali ketiga kau mengulang?” Ve mencoba menebak. Dika pun beranjak dari tempat duduknya dan mendekati Ve, ia mencondongkan badannya dan berbisik di telinga Ve.

“ Syukurlah kamu ingat siapa namaku, aku hanya ingin berpesan sama kamu kalau menjadi seorang pendidik itu janganlah tertutup, buka jendela itu baik-baik agar apa yang masih diluar itu bisa masuk.”

Ve menarik nafasnya, ia merenungi kata-kata Dika. Ia merasa gagal mengajar hari ini tapi dalam hatinya ia masih merasa sedikit bangga karena telah memberi pelajaran bagi mereka yang tidak bisa menghargai kuliahnya.

Malam minggu di Yogyakarta

Lalu lalang kendaraan roda dua melintasi jalan Jenderal Soedirman, arah yang paling ramai adalah arah ke alun-alun Yogyakarta. Kendaraan roda dua memenuhi jalanan, para muda-mudi berkendara dengan asyiknya seolah tak ada manusia lain diantara mereka. Tangan gadis-gadis memeluk erat pinggang para kekasihnya. Entah mereka takut jatuh, atau ada sensasi tersendiri dengan berpegangan seperti itu. Tak cukup hanya dengan berpegangan tangan, tanpa malu-malu mereka menghimpitkan tubuhnya bahkan mukanya yang saling beradu ditemaram lampu Jogja.

====bersambung ya=====

******catatan kelana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s