Melanie

Namaku Melanie, tapi bukan melanie putria seperti putri Indonesia itu. Dia cantik dan terkenal. Tapi saya Melanie, gadis biasa-biasa saja yang selalu belajar dari embun pagi yang setiap hari kutengok di atas kelopak bunga mawar. Aku suka sekali mawar. Dari mawar aku belajar keindahan. Dari mawar aku belajar menjaga diri agar tetap indah.  Kata orang mawar itu penipu, dia indah tapi menyakitkan karena durinya yang begitu tajam. Tapi bagiku… mawar itu…. cantik.

Itulah catatan singkat yang bisa terbaca dalam halaman pertama buku hariannya. Melanie seorang gadis mungil yang sangat cerdas. Mungkin ia tak secantik teman-teman yang lainnya yang memang menggunakan perawatan salon. Dan rutin. Namun, Melanie gadis biasa yang manis. Manis tanpa perawatan.

Remaja tanggung ini kini tengah menjalani rutinitasnya sebagai pelajar SMA di kota Purbalingga. Kota kecil yang sekarang ini mulai terkenal karena wisata airnya. Owabong. Kota kecil ini juga sering disebut sebagai ‘kota palsu’. Kota yang penuh dengan bangunan pabrik pembuat rambut palsu, bulu  mata palsu, dan serba palsu.🙂

Melanie menyeringkapkan selimutnya dan membangunkan diri dari ranjang. Ia masih jelas nampak begitu ngantuk. Kedua matanya yang bulat ia kucek-kucek sampai berwarna merah. Dengan terpaksa ia harus bangun karena kewajibannya sehari-hari memanglah berangkat ke sekolah. Semata-mata ia lakukan demi satu cita-cita yang sudah terpatri betul dalam benaknya.

“Tegar, bangun. Kamu ini sudah besar nak, bangun buat sekolah saja susah. Di sekolah kamu ini main-main, bukan kerja nyari duit. Tidak seperti ibu, loncat kesana kemari demi makan kalian.”

Terdengar ibu Rida sedang kesusahan membangunkan anaknya. Ibu Rida adalah seorang wanita berusia 40 an tahun. Ia adalah wanita yang telah melahirkan Melanie, begitu pula Tegar adiknya.

Dalam rumah berukuran 12 x 8 meter inilah keluarga Melanie tinggal. Meski rumah yang ia huni ini kecil, tak pernah sedikitpun Melanie merasa minder ketika banyak teman-temannya main. Apalagi keluarga Melanie tak mampu membuat kamar mandi yang bersih seperti keluarga-keluarga lainnya. Di samping rumahnya hanya ada bak penampungan air yang kecil sebagai tempat mandi dan mencuci dan dengan kakus disampingnya. Tanpa tembok. Hanya bilik berasal dari karung beras Bulog yang digunakan sebagai aling-aling. Kotor dan tidak terawat.

Rumah kecil itu pun indah dihiasi pekarangan yang penuh dengan bunga mawar. Merah, merah muda, kuning, dan putih. Letak pekarangan mawar itu tepat sekali disamping kamar Melanie, sehingga tiap hari ketika membuka jendela yang ia lihat pertama kali adalah mawar. Kotornya kamar mandi di rumah itupun bisa ditebus dengan pekarangan indah seluas 3×4 meter ini.

****

Sebagai anak sulung Melanie mempunyai tanggung jawab penuh atas apa saja yang kelak akan terjadi pada keluarganya. Entah itu hal baik ataupun hal buruk. Setiap pagi sepeda mini classic ia kayuh ke sekolah dan juga mengantarkan adiknya ke Sekolah Dasar. Tak pernah ia mengeluh meski ia harus mengayuh sejauh 10 kilo meter ke sekolah. Dan tak juga ia iri melihat teman-teman sebayanya enak mengendarai sepeda motor. Satu pelajaran yang ia dapatkan dari ibunya adalah hidup itu tidak akan ada ujungnya kalau hanya untuk bersikap iri. Kalimat itu sudah menjadi falsafah dalam hidupnya dan ia pegang betul.

(bersambung lagi ya..)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s