Guruku, Terima Kasihku

 

Pagiku cerahku matahari bersinar

Ku gendong tas merahku, di pundak

Slamat pagi semua, kunantikan dirimu di depan kelasmu

Menantikan kami

Guruku tersayang, guru tercinta, tanpamu apa jadinya aku

Tak bisa baca tulis, mengerti banyak hal

Guruku terima kasihku

 

Nakalnya diriku kadang buatmu marah,

Namun segala maaf kau berikan

Tak bisa baca tulis, mengerti banyak hal

Guruku terima kasihku

 

Hari ini, 6 Juli. aku begitu merindukan guru-guruku. Entah mengapa. Aku merasa lirik lagu di atas begitu menyayat hati jika diresapi. Guru adalah orang tua kedua untuk murid-muridnya. Terkadang banyak hal yang menjengkelkan dari guru, misalnya ketika kita ketahuan nyontek, kita yang marah. Guru sering membawa masalah keluarga dari rumah ke sekolah, kita sering tidak menerimanya. Tugas yang menumpuk terlalu banyak, kita sering mengeluh. Soal ulangan yang sulit, kita teriak.

Dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku merindukan guru-guruku. Kasih sayangmu sungguh terlalu besar untukku. Mungkin tidak ada perlakuan istimewa untukku tapi sungguh kalian terlalu istimewa untukku. Guru-guruku yang paling mengesankan bagiku.

Tahun 1997 di usia empat tahun aku masuk ke Sekolah Dasar. Di tingkat paling dasar ada ibu yang begitu mengesankan. Ia adalah Ibu Marsini. Ibu, kala itu kau menjabat sebagai kepala sekolah SDN 1 Karangjoho. Engkau dengan usia yang tua, membimbingku yang kala itu masih balita untuk berlatih membaca di kelas 1. Kau juga sabar menunda pelajaran dengan menungguku diimunisasi setiap tanggal 7. Waktu itu ada catur wulan pertama, kau bilang kepada ibuku, masa itu sebagai masa uji coba untukku. Tapi ternyata aku lancar membaca, sehingga kau mengijinkanku melanjutkan sekolah. Catur wulan kedua angka 10 kau berikan sebagai angka peringkatku. Betapa girangnya diriku. Catur wulan ketiga kau berikan satu angka yaitu angka 7 untuk peringkatku dan ditambah bonus aku bisa naik ke kelas 2. Berkat engkau aku bisa ganti sepatu. Aku ingat betul sepatu kets putih sebagai hadiah dari ibuku karena naik kelas.

Kelas dua kumasuki. Menggendong tas hitam dengan dilengkapi buku Sinar Dunia bersampul biru dan pensil, aku tiap hari berangkat ke sekolah. Kenanganku di kelas dua ini adalah ada seorang guru yang penuh kesabaran mengajariku menyanyi namanya Ibu Yanti. Lagu itu adalah lihat kebunku dan kupu-kupu. Hingga kini aku ingat betul lagu itu. Saat kau menuding dengan sebilah bambu ke papan tulis, menuntun kami anak-anak kecil itu bernyanyi. Hal lain yang juga ku ingat adalah ketika kau terbata untuk mengeja huruf-huruf arab di papan tulis. Teman-teman mengatakan kalau kau ini seorang mualaf. Tapi entahlah benar atau tidak. Tiga catur wulan kau memasukkanku kedalam empat besar meski hanya ranking 3 atau 4 tapi itu cukup untuk mengantarkanku masuk ke kelas 3.

Hari-hari kelas 3 ku ditemani oleh seorang guru laki-laki dengan perawakan tinggi dan berkulit hitam. Dia adalah Pak Kimin. Guru ini terkenal galak, hampir setiap hari ada yang dimarahi oleh guru ini. Pengalaman lucu dan mungkin memalukan tapi tidak akan aku lupakan adalah ketika pak Kimin tengah marah dan membanting meja temanku yang bernama Efi. Efi duduk didepanku persis. Kami tidak tahu apa kesalahan kami sehingga guru ini marah. Tapi yang jelas, akibat tindakannya ini aku melakukan hal yang menggelikan di kelas dan tak bisa kusebutkan itu. Sungguh ini tak tertahankan. Waktu itu bertepatan juga dengan ulangan. Yang aku tahu, aku takut untuk meminta ijin keluar ketika si bapak tengah marah. Kenakalanku di kelas 3 mulai muncul, aku pernah bertengkar hingga jambak-jambakkan rambut hebat dengan Sutriyani di dalam kelas. Entah mengapa aku sangat membenci dia. Dia anak pindahan dari SD karangtengah. Dia sering mengadu domba pertemanan antara aku, Yuni, Efi dan Esti. Bagiku, dia yang menyebabkan kami membuat kubu, yakni kubu aku dengan Esti yang selalu bertengkar dengan kubu Efi dan Yuni. Tapi kami mengingat bahwa DILARANG BERTENGKAR LEBIH DARI TIGA HARI. Akhirnya kami pun sering bertengkar, tetapi cepat juga berdamai. Inilah kisahku sampai di kelas 3.

Kelas 4, waktu belajar di sekolah diisi dengan pemberian materi oleh guru yang cantik. Ibu Endah. Dia adalah ibu dari kawanku Didi (si jangkung). Ibu yang satu ini sangat lembut ketika berbicara. Meskipun ada anaknya diantara aku dan kawan-kawan, aku merasa dia tidak pilih kasih. Beliau pernah mengajariku untuk belajar puisi, kala itu aku mewakili SDN Karang Joho untuk lomba puisi. Memang tak ada hasil yang memuaskan disana. Tapi ini menjadi pengalaman yang berharga untukku. Masa pelajaran yang paling kuingat adalah ketika pelajaran IPA, kau membawakan kerangka tengkorak manusia. Kau menunjukkan bagian-bagian tubuh manusia. Mengerikan. Tapi terima kasih ibu. Ilmu yang kau berikan sangat berharga. Satu hal lagi adalah ketika kau mengatur kami untuk duduk berpasang-pasangan laki-laki perempuan. Kau memasangkanku dengan Kasno. Anak yang tiap hari kumarah-marahi karena sering mencontek dan (maaf) kurang pintar. Sering kata kasar [goblok] keluar dari mulutku. Betapa kasarnya kata-kataku kala itu. Lepas dari Ibu Endah, kami diberikan kepada suamimu pak Misdi untuk mengajari kami di kelas 5.

Di kelas 5 ini kau mengatur tempat duduk kami antara putri dengan putra. Kau memasangkanku dengan Harun Sulistyo. Tidak jauh berbeda dengan Kasno, bagiku Harun juga kurang pandai dalam pelajaran. Aku sering membenci anak-anak yang kurang pintar tetapi malas belajar (hingga sekarang pun rasa seperti ini masih ada). Aku menganggap untuk apa buang-buang uang buat jajan kalau di sekolah juga tidak belajar. Bukan aku sombong tetapi sikap tega di diriku memang ada sejak kecil. Pak Misdi adalah guru yang paling pintar di SDN Karangjoho menurutku. Dia bapak dari Didi anak tercerdas di angkatanku. Pak Misdi pandai di segala bidang, seni, musik, macapat, pelajaran. Bagiku, engkau guru sempurna yang kutemui. Kau yang mengajariku bagaimana mencangkok tanaman, bagaimana merangkai rangkaian paralel dan seri. Bagaimana menarik ulur magnet. Bagaimana menciptakan magnet dengan menggosok-gosokkan magnet pada besi. Pernah kau menegurku di kelas karena aku berisik dan menunjuk-nujukkan jempol ke anak yang duduk di belakangku. Banyak sekali pelajaran yang kau berikan padaku di kelas 5 ini. Saya sangat kagum padamu. Kaulah seorang guru teladan, guru yang apa adanya.

Di kelas tertua tingkat SD alias kelas 6, kami dibimbing oleh pak Sudiono. Guru yang kerap hujan lokal ketika berbicara ini juga kerap melucu di kelas (maaf). Dialah yang membimbing kami 21 anak untuk lulus ujian. Dan, akhirnya enam tahun aku sekolah hasil yang kuperoleh cukup memuaskan, jumlah Nilai Ebtanas Murni ku adalah 40,82 dari 5 mata pelajaran.

Ibu Marsini, Ibu Yanti, Pak Kimin, Ibu Endah, Pak Misdi, Pak Sudiono. Terima kasih, tanpa kalian apa jadinya aku, tak bisa baca tulis dan tak bisa mengerti banyak hal. Indah sekali pernah diajar oleh kalian.

Tingkat SMP akhirnya ku jajaki.

Aku masuk ke SMP Negeri 1 Pengadegan. SMP favorit di kecamatanku. Di sana tidak semua guru yang mengesankan, tapi ada guru-guru yang begitu menginspirasi. Pak Tugiyo guru bahasa Indonesia. Engkau lucu, pintar tapi juga jahat karena kau sering menepuk punggungku dengan keras di kelas. Hal yang mengesankan dari engkau adalah ketika setiap pelajaran pasti ada hal-hal yang bisa diplesetkan untuk melucu. Dan yang paling mengesankan adalah ketika kau memberikan selamat padaku atas peringkat 3 paralel untuk Ujian Nasional. Kau menyalamiku ketika aku sedang duduk di depan ruang guru. Tak kusangka, aku pun bisa membuktikan bahwa aku bisa lebih baik dari teman-teman yang sering kalian anggap pandai itu. Inspirasi yang kuperoleh darimu adalah ketegasan yang sangat darimu.

Kemudian Pak Turaharto, guru yang pandai sekali matematika. Ia juga sama seperti pak Tugiyo yaitu suku melucu di kelas. Ada hal yang paling kuingat terjadi padamu adalah ketika anak-anak tidak cocok untuk kau ajar, karena dianggap nilai matematika anak-anak ketika kau ajar rendah. Aku ingat sekali ketika awal-awal masuk kelas 3, kau menyampaikan kepada kami bahwa jika selama kau mengajar itu tidak jelas dan kami tidak cocok. Maka, segeralah untuk minta ganti guru. Tapi itu tidak pernah terjadi. Kau begitu sabar untuk mengulangi lagi penjelasan ketika kami tidak jelas. Inilah yang sangat menginspirasi bahwa kau ikhlas untuk melepaskan anak didiknya ke guru lain ketika kau merasa tak mampu mendidik kami.

Kau pernah berkata bahwa setiap ada PR, sebelum jam pelajaran masuk, kami boleh bertanya kepada siapa pun dan minta di ajarkan oleh siapa pun, guru mana pun. Dan aku ingat kau tidak menyebutkan pengecualian. Alhasil, aku pun setiap ada PR yang belum bisa mengerjakan, setiap sebelum masuk jam pelajaran, kutemuilah engkau untuk kumintai penjelasan terhadap soal yang belum jelas. Kau pernah berkata “lho kok bertanyanya kepada aku, kan nanti aku yang mengoreksi” dan aku menjawab “kan bapak tidak bilang kalau tidak boleh bertanya kepada bapak, jadi bertanya pada bapak ya boleh dong”. “Kalau seperti ini ya sudah pasti betul jawabannya,” tukas beliau. Tentu saja. Dan hal lain yang begitu  membuatku senang adalah ketika  aku terpilih sebagai siswa yang berhak mendapatkan les tambahan matematika darimu. Setiap hari 12 anak dengan nilai matematika tertinggi kau beri soal dan pembahasannya. Akhirnya, kau pun mengantarkanku pada kesuksesan. Nilai matematikaku nyaris benar semua. Aku memiliki nilai matematika 9,67 kala itu. Sebenarnya aku memiliki nilai sempurna jika satu soal tak kuganti jawabannya. Ah bodohnya diriku.

Satu lagi, ibu guru yang sangat mengesankanku adalah Ibu Eni Pujianti, guru Biologi. Dia sangat cerdas, dia yang juga membuatku untuk berminat masuk SMA dan mengincar jurusan IPA. Tapi, itu hanya mimpi saja, orang tua tak merestuiku masuk SMA jika bukan SMA 1 Purbalingga. Kala itu jumlan UAN SMP ku adalah 27,20. Sebenarnya aku masih bisa masuk SMA 1 Purbalingga. Tapi, kerena minder masalah ekonomi, aku yang hanya berkendaraan becak kala itu haru menyingkir dari segolongan mereka yang mengendarai sedan. Akhirnya aku pun masuk SMK N 1 Purbalingga. Di sini, kelasnya ekonomi tidak eksekutif seperti SMA N 1. Alhasil, impianku sebagai ahli Biologi pun gugur. Sudahlah, mungkin aku punya jalan lain. Satu hal, yang cukup kubenci dari guru-guru SMP ini adalah ketika tidak pernah mampir kesempatan untukku mengikuti lomba. Aku yakin aku mampu. Tapi sudahlah, mungkin kalian meragukanku.

SMK Negeri 1 Purbalingga

Sekolah ini mengantarkanku untuk bertemu dengan guru-guru mengesankan, yakni Pak Tutyanto (Toto), Pak Win, Bu Justin, Bu Yuni, Bu Retno, Pak Agung, dan lain-lain.

Pak Toto, terima kasih sangat besar kuucapkan kepadamu, karenamu aku sekarang bisa mengenyam bangku kuliah. Aku ingat sekali ketika kau dulu mendaftarkan kami di Universitas Negeri Yogyakarta. Kaulah yang bolak-balik Purbalingga-Jogja untuk mengurus segalanya. Dan kami hanya menunggu di Purbalingga. Setelah masuk kuliah, baru aku menyadari betapa besar jasamu. Tak kubayangkan ketika kau mengantri untuk verifikasi data-data kami. Padahal, animo siswa untuk kuliah di UNY sangat besar, dan beribu-ribu antrian di sana. Tapi kau pun dengan ikhlas melakukan itu untuk kami. Kau pun tersenyum gembira ketika kuberi tahu bahwa aku lulus ujian masuk, meskipun dengan jalur Nonreguler. Ah, aku tak tahu jalur-jalur masuk sebelumnya. Pak Toto, mungkin jika kau tak mengurusi ini, aku tak bisa menjadi bagian dari keluarga besar UNY. Terima kasih yang sangat kuucapkan.

Pak Win, mungkin kau tak begitu mengenaliku. Aku tidak seperti Faris yang sangat berprestasi di Sekolah. Tapi aku sangat berterima kasih padamu karenamu, aku pernah berdebat dengan dosen statistik terkait dengan rumus statistik yang dosen itu ajarkan. Bagiku, rumus yang kau ajarkanlah yang paling benar. Pak Win, kau begitu cerdas. Kau memberi kami modul dengan bahasa inggris. Orientasi cara mengajarmu begitu besar. Kini aku sudah paham itu. Kau hanya ingin memberi bekal terbaik untuk kami. Terima kasih pak Win, berkat cara mengajarmu itu, nilai matematikaku pun sempurna di angka 10.

Bu Justin, Ibu Retno, Ibu Yuni, Pak Agung. Terima kasih sekali ilmu akuntansi yang kalian ajarkan sangat berguna. Meskipun sampai muntah-muntah pelajaran akuntansi setiap hari dijejalkan, kini aku pun rindu dengan ilmu abstrak itu. Ya, ilmu hitung-hitungan uang yang tak ada wujud uangnya. Aku tak akan melupakan ilmu itu. Bu Justin, Bu Retno, Bu Yuni, Pak Agung taukah kalian awal masuk kuliah aku merasa sebagai Akuntan Nyasar. Aku nyasar di jurusan PKnH. Di pelajaran ini aku tidak punya bekal yang cukup. Pelajaran sejarah tidak diajarkan di SMK, pelajaran sosiologi pun hanya sesaat. Ah, aku terlalu berkutat dengan uang, ini membuatku benar-benar nyasar di awal-awal kuliah. Aku menyesal kenapa tidak masuk Akuntansi. Aku sudah punya bekal yang cukup, mungkin aku malah bisa menjadi ahli akuntansi. Ah., lupakan saja, sekarang aku tak lagi merasa nyasar.

Bapak Ibu Guruku, kalian adalah guru-guruku tersayang……

Kini aku menjadi mahasiswa, di sini banyak dosen-dosen yang pandai-pandai. Dari mereka aku mengerti banyak hal. Pak Halili, pak Cholisin, pak Samsuri, pak Anang, ibu Hartini, ibu Ati, ibu Pratiwi, pak Ekram, ibu yang cantik ibu Iffah, ibu Candra, ibu Puji, ibu Eni, pak Suripno, pak Marzuki, pak Sunarso, pak Nasiwan, pak Suharno dan prof. Ghofur. Kini aku mahasiswa semester VI, bimbinglah aku sebagai sebaik-baiknya sarjana. Aku tak mau menjadi lulusan sarjana yang gagal. Kegagalan itu adalah ketika saya tak bisa memberikan pelajaran yang baik dan mengajari yang baik kepada murid-muridku kelak.

Guru tersayang, guru tercinta, tanpamu apa jadinya aku

Tak bisa baca tulis, mengerti banyak hal

Guruku terima kasihku

Dwiningsih Afriati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s