Siap!!!!!!

“Kemana kakiku melangkah itulah kemana masa depanku dan tanggung jawabku kupertaruhkan”

Pagi itu jam masih menunjukan pukul 03.30 WIB tanggal 17 September 2013, aku tak bisa memejamkan mata meski sebentar. Hatiku masih kacau karena hendak meninggalkan keluarga dan tunangan. Namun aku harus memilih, dengan perasaan sesak di dada aku pun harus mengangkut barang-barang di koper dan dua tas gendongku untuk menuju ke tempat pengabidan. Keluarga mengantarkan keberangkatanku hingga universitas. Suasana begitu haru ditambah awan yang sedikit mendung. Jarum jam baru menunjukkan pukul 05.30 WIB, matahari pun belum menampakkan kemegahannya.
Upacara pelepasan menjadi pertanda bahwa kami benar-benar dilepas untuk mengabdi ke sebuah daerah antah brantah. Aku katakan demikian karena tempat itu masih terlalu abstrak dalam benakku. Malinau. Sebuah kabupaten di provinsi yang baru dimekarkan tahun 2010. Kabupaten yang menjadi garda terdepan bumi Indonesia. Ya, di sinilah harga diri negara Indonesia dipertaruhkan. Harga diri? Makanan macam apa itu, aku rasa harga diri Indonesia benar-benar sudah di ujung tanduk. Betapa tidak? Tapal batas yang seharusnya dapat menarik perhatian warga negara asing untk mengunjungi Indonesia ternyata tidak sesuai dengan semestinya. Kabupaten Malinau di tapal batas ternyata dikategorikan menjadi daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal). “Malang sekali nasib masyarakat di sana”, pikirku. Mereka harus memikul tanggung jawab besar karena harus menjaga daerah perbatasan namun nasib mereka lebih banyak ditopang oleh negara tetangga. Di mana perhatian pemerintah selama ini.
Pengabdian di Malinau kujadikan sekecil berkas untuk membantu fungsi negara dalam mencapai tujuan yakni “Mencerdaskan kehidupan bangsa”. Sudah sejak disahkan tanggal 18 Agustus 1945, tujuan negara itu tetap masih bertengger di pembukaan UUD 1945 alinea ke IV. Tetapi apa yang terjadi, tujuan tersebut belum juga teralisasikan. Mungkin waktu 68 tahun masih terlalu singkat untuk mencapai tujuan itu. Padahal, 68 tahun adalah rata-rata usia manusia di Indonesia. Dengan perumpamaan jika seorang warga lahir pada tanggal 18 Agustus 1945, mungkin dia sudah meninggal tanpa melihat tujuan negaranya tercapai.
Alasan itu pula yang membuatku semakin mantap untuk terbang ke bumi antah brantah di Malinau. Meski isak tangis membanjiri pipi, ayah dan ibuku menguatkanku seolah mereka memberi keyakinan bahwa “Kau harus pulang membawa kemenangan nak! Ini bukan hanya tanggung jawab negara, tapi tanggung jawab semua bangsa terlebih kau diciptakan untuk menjadi seorang guru.” Siap!!!! Empat huruf itulah yang harus ditanamkan baik-baik dalam hati sebelum berhenti ditengah jalan.

Gambaran geografis Kabupaten Malinau disorot dari udara

Bandara Adisucipto…
Penerbangan ke Malinau membutuhkan rute panjang. Pesawat Garuda akan mengangkutku bersama teman-teman lainnya tepat pada pukul 09.50 WIB. Rombongan keluargaku pun sudah meninggalkan bandara tanpa melihat aku masuk ke dalam perut burung raksasa kebanggaan Indonesia itu. Ahh, rasanya dadaku semakin sesak, nafasku serasa kian pendek. “Siap, siap!!”, aku berusaha meyakinkan diri sendiri. Perasaan yang aku rasa mungkin sama dengan perasaan 203 peserta SM3T lainnya. Ini bukan berlebihan karena kami akan meninggalkan keluarga selama 1 tahun tanpa bisa pulang. Kami akan melewatkan banyak momen yang seharusnya bisa mengumpulkan keluarga besar seperti Idul Fitri, Idul Adha, hajatan, dan lain sebagainya. Belum lagi jika kami menemui daerah tanpa ada jaringan listrik, jaringan telekomunikasi, kekurangan sumber air. SIAP, SIAP!!!! Kami siap memenuhi janji konsitusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, apalah arti kita bahagia jika bangsa kita masih banyak yang terbelenggu oleh kebodohan.

SAM_7622
Perjalanan menggunakan moda transportasi andalan “Long Boat”. Perjalanan selama 6 jam dari pusat kota Malinau ke Long Berang

Tujuanku datang ke daerah antah brantah ini tidak muluk-muluk, tak mungkin dalam waktu satu tahun aku dan teman-teman mampu menciptakan makhluk-makhluk cerdas. Negara saja yang sudah menghabiskan waktu 68 tahun belum mampu apalagi kami yang hanya satu tahun. Kecil memang tujuan kami datang. “Tujuan kami hanyalah untuk memberikan inspirasi, pemahaman bahwa belajar merupakan sesuatu yang penting, tak ada yang sia-sia jika kita belajar. Belajar dari segala hal yang bisa dipelajari”. Dan bagiku sebagai peserta SM-3T pun yakin bahwa mengikuti program ini bukanlah sesuatu yang sia-sia karena aku akan belajar banyak hal di daerah yang menempatkanku sebagai kaum minoritas.

Dwiningsih Afriati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s