Perjuanganku Untuk Sebuah Pencapaian

Oleh: Arlena

Kelas XI, SMA Negeri 11 Malinau

 

Di saat pagi-pagi aku meihat dan memandang akan indahnya pagi ini, menatap gunung-gunung yang beragam bentuk keindahan. Aku berfikir tentang kehidupan ini, dan hal itu pun membuat aku teringat pada waktu aku mencoba sesuatu yang selalu membuat aku frustasi akan cobaan itu.

Di saat Tuhan menguji kemampuanku, pada saat itu aku tidak pernah berfikir bahwa itu akan berhasil atau gagal. Pada saat aku mencoba menjadi pribadi yang selalu tegar dan tidak gampang frustasi. Hari itu hari yang sangat meyedihkan bagiku namun selalu ada sahabat-sahabat yang selalu menyemangati. Ia adalah Debby. Dia yang selalu memotivasi aku agar jangan gegabah melakukan suatu  pekerjaan yang patut aku selesaikan.

Malam hari aku sempat berpikir dan bertanya dalam hati, “bagaimana jika aku mencoba lagi dan berkonsultasi dengan Pak Hardana.” Sebelum itu aku pun berkonsultasi dengan saudara-saudara dan menceritakan dua kali kegagalan yang pernah aku alami selama mengikuti seleksi sebagai mahasiswa pascasarjana kedokteran spesialis paru-paru. Aku ingat betul pesan Debby agar bisa melanjutkan perjuanganku. “Jangan frustasi lagi akan kegagalan-kegagalan yang telah terjadi, teruslah melangkah dan jangan menjadi bodoh. Dengan kamu diam seperti ini akan membuat percaya dirimu semakin luntur. Kamu harus mencoba lagi dan tetaplah bersemangant,” ujar Debby waktu itu.

***

Keesokan paginya aku mendatangi pak Hardana, salah satu dosen yang dulu menjadi pendamping skripsi di Universitas Mulawarman.

“Kamu masih berminat mendalami spesialis paru-paru?” tanya pak Hardana.

“Masih Pak. Tetapi saya sudah mengalami dua kali kegagalan dalam mengikuti tes. Tapi minat itu masih begitu besar dalam diri saya,” jawabku.

Pak Hardana pun memberikan kabar gembira bahwa aku masih diberi kesempatan untuk mengikuti tes lagi. Aku begitu gembir mendengar kabar tersebut. Tak akan kusia-siakan kesempatan ini. Kali ini aku lebih mempersiapkan diri agar usaha yang ketiga kali ini berhasil.

Menjadi dokter spesialis paru-paru adalah cita-citaku sejak kecil. Pengalaman pahit yang pernah aku alami dululah yang mendorong cita-citaku ini. Kakak saya pernah mengalami penyakit paru-paru sampai tak bisa tertolong. Tak ada yang mampu menolong, tak ada dokter yang spesialis menangani paru-paru di pedalaman Malinau ini.

***

Hari pun terus berlalu

Tanggal yang ditentukan pun tiba. Aku berangkat untuk mengikuti tes di Universitas Indonesia di pusat negara Republik Indonesia, Jakarta. Doa tak pernah lupa kupanjatkan agar Tuhan memberikan kemudahan agar pula aku tidak mendapat kegagalan lagi.

Di saat aku mengikuti tes itu hati serasa akan copot. Sainganku nampak begitu kuat. Mereka berpenampilan keren. Di antara mereka ada beberapa lulusan dari universitas luar negeri. Banyak pula di antara mereka yang sudah bekerja menjadi dokter di rumah sakit.

Lembar tes dibagikan ke masing-masing peserta, aku pun menerima berlembar-lembar kertas berisi pertanyaan-pertanyaan. Baik tes psikologis, tes akademik hingga tes yang berisi kecakapan diri. Kali ini aku tak ingin tergesa-gesa menjawab setiap pertanyaan yang ada. Semua hasilnya nanti aku pasrahkan kepada Tuhan dan tim penyeleksi.

Seminggu berselang setelah tes aku ikuti, akhirnya jadwal pengumuman yang ditentukan oleh panitia tiba. Dalam hati aku terus berdoa dan berdoa. Pengumuman akan dilakukan langsung oleh ketua jurusan di Jakarta. Aku pun yang berasal dari rantau berangkat lagi ke kampus UI.

Aku kembali dipertemukan dengan peserta-peserta tangguh yang berasal dari berbagai pelosok negeri. Lalaki tua mengenakan jas putih keluar dari ruangan. Ia memanggil namaku, Arlena. Aku pun ikut masuk ke ruangan yang banyak sekali peralatan kedokteran dan beberapa tumpukkan kertas putih. Kali ini jantungku seakan berhenti beberapa detik. Namun kutarik nafasku dalam-dalam agar aku lebih tenang. Aku pun duduk di hadapan lelaki tua itu. Ia mengenalkan dirinya sebagai Profesor Abraham. Ketua Jurusan Pascasarjana Kedoketeran. Dia juga salah satu guru besar spesialis paru-paru.

Betapa gembiranya aku, aku hanya mampu terperangah mendengar ia menjelaskan tentang dirinya. Ia memberikan sebuah kertas. Sebuah kertas piagam. Ia berkata secara singkat, “Selamat bergabung dan menjadi salah satu calon dokter spesialis paru-paru.”

Senyum sumringah menyimpul  dari bibirku. Aku tak lupa berterima kasih kepada Tuhan dan kepada Prof. Abraham. Aku begitu bahagia karena perjuanganku selama ini tidaklah sia-sia.

Setelah mendengar kabar bahagia itu, aku menemui salah satu temanku bernama Alvin. Dia adalah teman yang kukenal sejak tes. Dia begitu baik, dan terlihat begitu cerdas.

“Alvin, bagaimana hasilnya?” tanyaku tanpa bisa menutupi raut mukaku yang tengah bahagia.

“Selamat ya Lena, kali ini aku akan menunda dulu cita-citaku,” jawab Alvin dengan muka yang suram.

Aku pun berusaha menenangkannya sebagaimana Debby kawanku dulu menenangkanku “Sudahlah kamu jangan sedih, masih ada kesempatan lagi untuk mencoba, aku yakin itu seperti aku dulu yang berkali-kali mengalami kegagalan namun tak berhenti mencoba.”

Meskipun suatu perjuangan itu akan memakan waktu lama, asalkan bersabar, dan tidak cepat putus asa pasti akan ada kemudahan. Begitu banyak orang yang bersabar akhirnya tercapai juga apa yang diangan-angankan. Seperti pepatah “pantaslah bagi si pengetuk pintu, jika ia terus-menerus melakukan lama-lama akan dapat masuk rumah juga”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s